Flock baru-baru ini bikin perubahan di platform mereka, tapi ada yang bilang ini malah bikin masalah baru. Yuk, kita bahas lebih dalam!

Flock itu perusahaan teknologi yang terkenal banget dengan sistem pembaca plat nomor otomatisnya. Bayangkan, mereka punya sekitar 120.000 kamera di seluruh AS! Nah, minggu lalu mereka ngumumin beberapa perubahan di platformnya. Tujuannya sih biar polisi nggak bisa sembarangan pakai sistem ini untuk hal-hal ilegal, kayak stalking. Tapi, ada banyak orang yang meragukan apakah ini benar-benar efektif.

Baru-baru ini, Washington Post ngungkap ada 50 kasus di mana polisi salah gunakan sistem Flock dan saingannya. Misalnya, ada seorang wanita di Wisconsin yang mantan pacarnya, yang juga polisi, udah ngecek mobilnya sampai 179 kali! Ini bikin banyak orang khawatir, soalnya ada yang bilang Flock ini malah jadi alat pengawasan massal, bukan alat untuk memberantas kejahatan.

Flock udah coba jawab kritik ini dengan bikin aturan baru. Misalnya, mereka minta polisi untuk masukin nomor kasus sebelum nyari data di platform mereka. Tapi, ternyata mereka nggak ngecek nomor itu. Jadi, polisi bisa aja masukin nomor palsu! Ini jelas jadi celah yang bisa dimanfaatkan, dan bikin orang makin skeptis sama niat Flock.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Kritik yang lebih dalam lagi datang dari kelompok yang peduli sama kebebasan sipil. Mereka bilang, Flock itu udah mengubah alat yang awalnya dijual buat memberantas kejahatan jadi alat pengawasan yang masif. Beberapa kota bahkan udah mulai membatalkan kontrak dengan Flock, dan ada yang berusaha bikin undang-undang untuk membatasi penggunaan alat ini.

Tapi, di tengah semua kritik ini, ada juga yang membela Flock. Mereka bilang, kalau kamera ini bisa bantu pecahkan kasus kejahatan, kenapa harus dipermasalahkan? Mungkin di hari baik, kamera ini bisa bantu tangkap penculik. Tapi, kita harus tanya lagi, sistem kejahatan seperti apa yang sebenarnya dibangun oleh Flock?

Flock mengumpulkan data dan membagikannya ke berbagai kota. Mereka bilang, 90% pencarian terjadi dalam seminggu setelah insiden. Jadi, kenapa nggak simpan data hanya selama itu? Dengan cara ini, data yang dikumpulkan bisa lebih bermanfaat dan nggak bikin orang merasa diawasi terus-menerus. Flock udah mulai mengubah waktu penyimpanan jadi tujuh hari, tapi kenyataannya, polisi bisa simpan data lebih lama.

Kalau Flock mau, mereka bisa bikin sistem pengawasan yang lebih ketat dan terarah. Tapi, itu bisa bikin mereka kehilangan daya tarik di mata kepolisian. Soalnya, model bisnis mereka bergantung pada pengumpulan data yang banyak untuk membantu polisi memahami situasi di lapangan. Sekarang, beberapa kota udah mulai berpikir ulang tentang bagaimana teknologi ini seharusnya digunakan.

Jadi, pertanyaannya, apakah kita mau menerima pengawasan demi keamanan? Atau kita harus berjuang untuk batasan yang lebih jelas? Ini semua kembali ke kita sebagai masyarakat untuk menentukan bagaimana teknologi ini seharusnya digunakan dalam memberantas kejahatan.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Flock baru-baru ini bikin perubahan di platform mereka, tapi ada yang bilang ini malah bikin masalah baru. Yuk, kita bahas lebih dalam!

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review AI.

Baca artikel asli di MIT Technology Review AI→
Flockpolisiprivasisurveillanceteknologi