Flock, raksasa teknologi polisi, baru-baru ini mengubah aturannya. Kenapa sih mereka melakukan ini? Yuk, kita bahas!

Jadi, Flock ini kan perusahaan yang bikin jaringan kamera pengawas untuk polisi di seluruh negeri. Baru-baru ini, mereka ngumumin perubahan aturan akses buat petugasnya. Tujuannya? Biar bisa meredakan kritik yang makin banyak soal pengawasan massal dan penyalahgunaan kekuasaan. Mereka mau dapetin kembali kontrak yang hilang gara-gara isu ini.

Salah satu perubahan yang mereka lakukan adalah petugas sekarang harus masukin nomor kasus kriminal sebelum bisa nyari data lokasi. Ini sih udah lama diminta sama kelompok pembela hak sipil. Tapi, masalahnya, Flock nggak bakal verifikasi nomor kasus itu, jadi petugas masih bisa akalin aturan ini. Ada yang pernah masukin 'hehehe' 20 kali pas ditanya kenapa mereka nyari data.

Bukan cuma itu, Flock juga mulai ngembangin sistem audit otomatis yang katanya bisa mendeteksi pencarian mencurigakan dari petugas. Tapi, mereka belum kasih tahu seberapa akurat sistem ini. Ini juga udah jadi wajib setelah sebelumnya cuma opsional. Jadi, kita lihat aja apakah ini beneran efektif atau enggak.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Selain itu, Flock juga ngasih rekomendasi supaya data disimpan cuma selama tujuh hari, bukan 30. Ini mungkin bisa jadi langkah buat ngurangi kekhawatiran soal privasi. Tapi, tetap aja, petugas masih harus jujur soal alasan mereka nyari data. Kalo enggak, ya sama aja bohong.

Kritik terhadap Flock ini datang dari berbagai arah. Bahkan, ada yang bilang teknologi mereka bikin negara jadi kayak 'negara budak'. Beberapa kota udah mutusin buat berhenti kerja sama dengan Flock. Meskipun sulit untuk tahu berapa banyak, setidaknya 30 kota udah cabut kontrak dalam setahun terakhir.

Chad Marlow dari ACLU bilang, perubahan yang dilakukan Flock ini terlalu kecil. Dia menekankan bahwa untuk bener-bener bertanggung jawab, Flock harus buka sistem mereka untuk peneliti independen. Jadi, kita lihat aja apakah mereka bakal mau melakukan itu atau enggak.

CEO Flock, Garrett Langley, bilang bahwa banyak pelanggan yang pergi karena salah informasi. Dia mengklaim orang-orang berpikir Flock melakukan pengenalan wajah atau jual data yang mereka kumpulin. Tapi, kritik juga bilang bahwa Flock sering bohong soal kemampuan teknologi mereka.

Jadi, meskipun Flock udah mulai bikin perubahan, banyak yang bilang ini masih jauh dari cukup. Mereka ada di persimpangan jalan, antara mau merespons kekhawatiran publik atau tetap pada cara lama mereka. Kita tunggu aja langkah selanjutnya dari Flock.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Flock, raksasa teknologi polisi, baru-baru ini mengubah aturannya. Kenapa sih mereka melakukan ini? Yuk, kita bahas!

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review AI.

Baca artikel asli di MIT Technology Review AI→
Flockpengawasanteknologi