Anak-anak punya pandangan unik tentang AI. Dari yang skeptis sampai yang excited, yuk simak pendapat mereka!
Jadi, waktu kita ngobrol sama anak-anak tentang AI, kita kira udah tahu apa yang bakal mereka bilang. Pasti ada yang bilang mereka pakai AI buat nyontek, kayak generasi kita dulu yang suka buka CliffsNotes. Tapi ternyata, respon mereka jauh lebih beragam dan menarik. Banyak dari mereka yang bilang 'meh' atau bahkan benci sama AI. Ada yang bilang, 'Gak mau deh, soalnya bisa merusak kreativitas.'
Contohnya, Winter, yang umur 17 tahun, bilang, "AI bukan solusi buat masalah kita. Aku takut ini bakal bikin kreativitas dan pemikiran kritis hilang." Tapi, di sisi lain, banyak juga yang ngaku pakai AI sedikit-sedikit. Mereka nggak terlalu fokus sama AI, dan nggak minta-minta kayak mereka pengen iPhone atau akun Snapchat.
Banyak yang bilang, pengalaman pertama mereka sama AI biasanya dari orang tua atau sekolah. Kadang-kadang, AI udah ada di perangkat dan aplikasi yang mereka pakai sehari-hari, kayak saat mereka cari info di Google. Menariknya, data dari Pew Research Center juga nunjukin kalau 57% remaja di AS udah pernah pakai chatbot buat cari informasi, dan 54% pakai buat tugas sekolah.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Tapi, meskipun mereka pakai AI, tetap ada kekhawatiran. Anak-anak bisa aja terjebak sama konten yang nggak pantas atau percaya jawaban yang salah. Kita perlu ngajarin mereka cara pakai AI dengan bijak, bukan malah menjauhinya. Kita nggak ngajarin remaja buat nggak pernah nyetir, kan? Kita ajarin mereka buat cek blind spot.
Yang bikin kita terkejut, anak-anak ini bisa ngajarin orang dewasa banyak hal tentang AI. Mereka lebih khawatir tentang dampak sosialnya daripada kehilangan pekerjaan. Dengan semakin banyaknya alat yang bisa bikin mereka berpikir atau berbicara, kebanyakan dari mereka pengen tetap pegang kendali.
Contohnya, Remy, yang umur 16 tahun, bilang, "AI itu menarik, tapi masih kasar. Seperti mobil pertama atau pesawat pertama. Belum sempurna, tapi ada potensi besar di sana." Dia lebih suka bikin sendiri daripada mengandalkan AI, terutama dalam coding. Dia percaya AI masih butuh banyak perbaikan.
Danielle, yang umur 18 tahun, lagi belajar teknik dan pengen inovasi teknologi yang bisa bantu banyak orang. Dia bilang, "AI itu nggak baik atau buruk, tergantung yang pakai. Sekarang udah banyak yang pakai AI untuk pendidikan yang lebih personal dan diagnosis medis yang lebih mudah."
Hazel, 17 tahun, ngerasa cemas sama dampak lingkungan dari AI. Dia bilang, "Data center yang dibangun buat AI itu boros air dan bisa bikin suhu lokal naik." Dia lebih milih untuk nggak terlibat sama AI, meskipun banyak temannya yang pakai.
Wesley, 14 tahun, bilang dia pakai AI buat tugas sekolah, tapi khawatir AI bisa bikin kita kehilangan kemampuan berpikir kreatif. Dia coba ngobrol sama AI, tapi lebih suka Character.AI yang lebih interaktif. Dia bilang, "Kita harus hati-hati sama konten yang kita klik, soalnya bisa jadi nggak pantas."
Evelyn, 13 tahun, baru-baru ini didiagnosis diabetes tipe 1 dan AI jadi bagian penting dalam hidupnya. Dia bilang, "AI bisa bantu kita ngitung karbohidrat saat masak. Ini bikin hidupku lebih mudah." Dia percaya manfaat AI lebih banyak dibanding risikonya.
Krishiv, 18 tahun, bikin AI tutor sendiri yang bisa bantu dia belajar. Dia bilang, "AI bisa bantu semua orang, bukan cuma yang kaya. Ini bisa bantu anak-anak yang butuh perhatian khusus. AI bisa unlock potensi yang luar biasa."
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Anak-anak punya pandangan unik tentang AI. Dari yang skeptis sampai yang excited, yuk simak pendapat mereka!
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review AI.
Baca artikel asli di MIT Technology Review AI→