Jelajahi bagaimana AI bisa mengubah sistem kesehatan jadi lebih canggih dan terintegrasi.
Kamu pernah bayangin nggak, gimana sih kalau sistem kesehatan kita dikelola oleh banyak AI yang saling kerja bareng? Misalnya, satu AI yang ngurus penilaian gejala, satu lagi untuk jadwal, dan ada juga yang ngurus asuransi. Masing-masing dari mereka adalah ahli di bidangnya, tapi sayangnya, mereka masih belum bisa koordinasi tanpa campur tangan manusia. Jadi, meskipun mereka bisa tukar data, masih ada yang kurang.
Vijoy Pandey, VP di Outshift by Cisco, bilang kalau “kecerdasan itu udah ada, tapi yang kurang itu adalah jembatan yang bikin empat orang asing ini jadi satu tim.” Nah, jembatan ini bisa terwujud dengan menambah lapisan semantik, yang Outshift sebut sebagai “Internet of Cognition.” Dengan ini, AI dari berbagai bidang bisa kerja bareng dan ‘berpikir’ bareng berdasarkan niat, konteks, dan alasan yang sama.
Selama ini, industri AI lebih fokus ke pertumbuhan. Mereka bikin model yang lebih besar dengan data yang lebih banyak. Ini bikin kemampuan reasoning AI jadi lebih canggih, kayak otak. Tapi, untuk bisa menyelesaikan masalah yang lebih kompleks di berbagai sistem, perusahaan harus mulai berpikir horizontal, bukan cuma vertikal. Pandey bilang, sistem multi-agent udah mulai dieksplorasi di banyak bidang, tapi hasilnya masih kurang memuaskan.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Satu penelitian menunjukkan kalau tingkat kegagalan sistem multi-agent bisa mencapai 87%. Pandey menjelaskan, “AI yang terhubung bisa melakukan aksi terkoordinasi dengan baik, tapi mereka belum bisa punya tujuan yang sama dan berpikir untuk menyelesaikan masalah yang belum pernah mereka latih.” Jadi, masalahnya lebih ke arsitektur, bukan karena mereka nggak bisa dipandu.
Untuk mengatasi ini, Outshift bikin lapisan konektivitas yang dinamakan AGNTCY. Ini adalah proyek open-source yang memungkinkan AI dari berbagai sistem untuk saling menemukan, membuktikan identitas, dan bertukar pesan. Dengan AGNTCY, mereka bisa menyelaraskan tujuan, berbagi pengetahuan, dan membuat keputusan bareng. Pandey mengibaratkan ini dengan manusia yang belajar untuk berbagi niat dan membangun pengetahuan bersama.
Langkah awal untuk mencapai superintelligence terdistribusi ini ada di tiga pilar: pertama, niat bersama melalui protokol status kognisi. Protokol ini bikin AI bisa setuju duluan sebelum bertindak. Kedua, konteks bersama melalui jaring kognisi yang menyimpan ingatan dan komunikasi. Ketiga, reasoning bersama melalui teknologi penguat kognitif yang mempercepat proses berfikir. Semua ini bikin AI bisa berkolaborasi lebih efektif.
Tapi, ada risiko baru yang muncul, seperti delegasi yang tidak diinginkan atau akses berlebihan oleh AI. Jadi, perlu ada kontrol spesifik untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan. Pandey menekankan, “Kita udah bikin kontrol akses dan identitas selama dua puluh tahun, tapi belum ada yang menggabungkan keduanya.”
Pandey juga menyarankan agar perusahaan mulai bereksperimen dengan satu alur kerja lintas fungsi yang melibatkan tiga atau empat tim. “Bikin sistem multi-agent kecil di infrastruktur yang terbuka, terus ukur hasilnya,” katanya. Dengan bereksperimen sekarang, organisasi bisa lebih siap menghadapi tantangan yang ada di depan.
AI Updates lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review AI
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
AI Updates update dari MIT Technology Review AI.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review AI.
Baca artikel asli di MIT Technology Review AI→