AI lagi jadi topik hangat di dunia pertanian, tapi ada yang harus kamu tahu sebelum terjun. Yuk, simak lebih lanjut!

Jadi, kamu tahu kan kalau AI lagi jadi sorotan di dunia pertanian? Banyak yang bilang AI bisa bikin hasil panen lebih maksimal dan mengurangi penggunaan air. Tapi, sebelum kamu terjun ke dunia AI, ada satu hal penting yang harus kamu perhatiin: data! Tanpa data yang bersih dan solid, semua janji manis dari teknologi ini bisa jadi omong kosong belaka.

Misalnya, ada penelitian yang bilang kalau model prediksi berbasis AI bisa ningkatin hasil panen sampai 26%, mengurangi penggunaan air sampai 41%, dan mengurangi penggunaan bahan kimia sampai 33%. Gede banget kan? Tapi, semua itu bisa gagal total kalau data yang dipakai nggak akurat. Bayangkan aja, model prediksi yang didasari data historis yang kacau bisa bikin ramalan yang meleset jauh dari kenyataan.

Nah, di dunia pertanian, data itu kompleks banget. Ada banyak sumber data yang harus digabungin, mulai dari data cuaca, informasi dari Departemen Pertanian AS, sampai data pasar dari pihak ketiga. Semua itu harus disatukan agar AI bisa bekerja dengan baik. Misalnya, sistem irigasi yang otomatis butuh data yang tepat tentang kondisi tanah dan cuaca untuk bisa ngatur penyiraman yang efisien.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Tapi, bukan cuma itu. AI juga harus paham tentang karakteristik lahan, seperti koordinat GPS, batas lahan, dan variasi tanah di setiap area. Kalo nggak, rekomendasi yang dihasilkan bisa jadi nggak akurat dan malah merugikan. Misalnya, kalau AI nyuruh kamu nyemprot pupuk di tempat yang salah, bisa-bisa hasil panenmu jadi anjlok.

Selain itu, ada aspek kepatuhan yang juga penting. Dalam pertanian, penggunaan bahan kimia harus diawasi dengan ketat. Jadi, AI yang dipakai harus lebih hati-hati dan punya banyak pemeriksaan untuk memastikan rekomendasi yang diberikan aman dan efektif. Kalo sampai ada rekomendasi yang salah dan diikuti, dampaknya bisa parah banget.

Jadi, apa sih yang dimaksud dengan 'data readiness'? Ini adalah kondisi di mana data yang kamu punya siap dipakai untuk AI. Artinya, kamu harus punya model data yang mencerminkan bagaimana bisnis kamu berjalan. Misalnya, buat distributor pertanian seperti Wilbur-Ellis, penting banget untuk tahu siapa pelanggan mereka, lahan yang mereka kelola, dan semua informasi terkait untuk bisa menghubungkan semuanya dengan margin keuntungan.

Data yang kamu miliki juga harus selalu diperbarui dan mudah diakses. Kalo data yang dipakai udah kadaluarsa, AI bisa memberikan rekomendasi berdasarkan informasi yang udah nggak relevan lagi. Ini bisa bikin keputusan yang diambil jadi salah kaprah.

Berita baiknya, jalan menuju data readiness itu sebenarnya bisa dilakukan. Mulai dengan membangun model data yang kuat dan terintegrasi. Reltio, misalnya, membantu perusahaan menyatukan data yang terfragmentasi agar AI bisa beroperasi dengan informasi yang lengkap. Dengan sistem ini, perusahaan bisa bertanya lebih banyak hal kompleks dan percaya dengan jawabannya.

Jadi, sebelum kamu ngobrol tentang AI di pertanian, tanyakan dulu: Apakah fondasi datanya sudah kuat? Pertanian itu selalu butuh keputusan yang tepat di tengah ketidakpastian. AI bisa jadi alat yang sangat membantu, tapi hanya untuk perusahaan yang udah siap dengan datanya.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

AI lagi jadi topik hangat di dunia pertanian, tapi ada yang harus kamu tahu sebelum terjun. Yuk, simak lebih lanjut!

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review AI.

Baca artikel asli di MIT Technology Review AI→
AIdatainovasipertanianteknologi