Kamu penasaran gimana brand memanfaatkan AI buat bikin konten iklan yang lebih kece? Yuk, simak cara mereka mengubah permainan!
Jadi, tahun ini banyak brand yang lagi galau tentang gimana sih cara pakai AI dalam iklan mereka. Ini jadi pertanyaan besar banget di kalangan marketer. Soalnya, AI bisa jadi senjata ampuh untuk mempercepat proses kreatif dan juga menghemat biaya. Gak heran kalau banyak yang mulai ngincar teknologi ini!
Contohnya, brand Goodwipes yang fokus di perawatan pribadi. Mereka bukan cuma pakai AI buat bikin konten baru, tapi juga buat optimasi foto-foto lama. Jadi, bisa dibilang mereka memanfaatkan teknologi ini untuk memaksimalkan hasil yang udah ada. Gimana, keren kan?
Nah, ada juga Hilton yang menggunakan alat AI untuk bikin lebih banyak kampanye iklan tanpa harus melakukan pemotretan tambahan. Bayangin aja, mereka bisa hemat waktu dan biaya, tapi tetap bisa tampil dengan konten yang fresh. Ini jadi solusi cerdas di dunia yang serba cepat ini.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Gak cuma itu, Unilever juga ikut-ikutan. Mereka memanfaatkan alat edit dan visualisasi untuk cepat-cepat ikut tren viral yang lagi hits. Jadi, bisa dibilang mereka gak mau ketinggalan dan selalu up-to-date dengan apa yang lagi ramai dibicarakan. Keren banget ya?
Sementara itu, Koia, brand minuman, malah menggunakan AI sebagai dasar untuk seluruh kampanye mereka. Mereka berusaha bikin sesuatu yang lebih dari sekadar realita. Ini menunjukkan bahwa AI bisa membuka banyak kemungkinan baru yang sebelumnya mungkin gak terpikirkan.
Jadi, bisa dibilang AI ini udah jadi bagian penting dalam strategi pemasaran banyak brand. Mereka semua lagi bereksperimen dan mencari cara terbaik untuk memanfaatkan teknologi ini. Kalau kamu punya brand, mungkin ini saatnya untuk mulai berpikir tentang bagaimana AI bisa membantu kamu juga!
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Kamu penasaran gimana brand memanfaatkan AI buat bikin konten iklan yang lebih kece? Yuk, simak cara mereka mengubah permainan!
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Digiday.
Baca artikel asli di Digiday→