Penasaran gimana AI search bikin web traffic para advertiser anjlok? Yuk, simak fakta menariknya!

Sejak Google ngenalin AI Overviews di 2024, dampaknya langsung kerasa banget di dunia digital. Banyak website yang tiba-tiba kehilangan traffic, bahkan sampai 58%! Ini gara-gara orang-orang lebih milih tetap di halaman Google daripada klik ke situs lain. Jadi, bisa bayangin kan, gimana para advertiser jadi kebingungan?

Nah, nggak semua bisnis merasakan dampak yang sama. Misalnya, perusahaan yang jualan langsung ke konsumen, kayak Kendra Scott, atau yang produk-produk yang butuh pertimbangan lama, seperti mobil atau barang elektronik, mereka yang paling kerasa efeknya. Ini bikin mereka harus mikir ulang strategi pemasaran mereka.

Kalau kita lihat data dari Brainlabs, rata-rata traffic organik turun lebih dari 10% setelah fitur Overview ini muncul. Data ini diambil dari 54 klien mereka yang ada di Google Analytics. Jadi, bisa dibilang, ini bukan masalah kecil, lho! Banyak yang harus beradaptasi dengan perubahan ini.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Dari 54 klien itu, ada 24 perusahaan dari AS, 24 merek dari Inggris, dan 6 klien dari pasar lain. Yang menarik, 29 dari mereka adalah advertiser besar yang punya lebih dari 1.000 karyawan. Ini menunjukkan bahwa dampaknya cukup luas dan nggak bisa dianggap remeh.

Dengan semua perubahan ini, para advertiser harus lebih kreatif dan adaptif. Mereka perlu cari cara baru untuk menarik perhatian konsumen yang sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di Google. Jadi, siap-siap deh untuk melihat strategi-strategi baru yang mungkin bakal muncul di pasar.

Intinya, AI search udah bikin gelombang besar di dunia digital. Para advertiser harus cepat tanggap dan berinovasi supaya tetap bisa bersaing. Penasaran dengan langkah-langkah apa yang bakal diambil mereka selanjutnya?

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Penasaran gimana AI search bikin web traffic para advertiser anjlok? Yuk, simak fakta menariknya!

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Digiday.

Baca artikel asli di Digiday→
AIGoogledigital marketingiklanweb traffic