Cord-cutting ternyata bukan akhir TV kabel. Orang cuma ganti cara nonton lewat streaming. Baca fakta terbaru di sini.

Kamu pasti sering denger istilah cord-cutting kan? Konon katanya orang-orang massal nyepetin kabel TV dan beralih ke streaming total. Tapi data terbaru dari Future of TV Briefing ngasih gambaran yang beda banget — dan agak bikin ngelucu. Ternyata orang memang ngilangin kotak kabel (set-top box) dari ruang tamu, tapi mereka enggak benar-benar ninggalin konten TV kabel. Mereka cuma ganti cara aksesnya aja, dari kabel fisik ke virtual MVPD kayak YouTube TV, Hulu + Live TV, atau Sling TV. Jadi yang mati cuma 'kotak'nya doang, bukan 'TV'-nya.

Angka langganan kabel tradisional memang turun gede banget tahun ini. Ribuan pelanggan cabut setiap bulannya, dan provider kabel kaya Comcast atau Charter kelelahan ngejar angka. Tapi kalau kamu lihat data penayangan channel kabel — CNN, ESPN, Fox News, HGTV — ratingnya tetep stabil bahkan naik di platform streaming. Artinya, audiens enggak hilang, mereka cuma pindah tempat duduk. Fenomena ini bikin definisi 'cord-cutting' jadi ambigu banget. Apakah orang yang nonton ESPN lewat YouTube TV masih dihitung cord-cutter? Secara teknis iya, tapi secara perilaku? Mereka tetep konsumen TV linear.

Kenapa enterprise ikut bergerak ke bundling streaming

Sisi bisnisnya, para raksasa media kayak Disney, Warner Bros. Discovery, dan Paramount udah sadar kalau masa depan ada di bundling. Mereka sekarang agresif banget ngejar deal carriage dengan virtual MVPD — bayar hak siar channel kabel ke platform streaming supaya tetep masuk ke rumah orang. Ini beda banget dengan era dulu dimana mereka protektif banget sama model kabel tradisional. Sekarang mereka mau deal sama siapa aja asalkan kontennya tetep terdistribusi dan duit iklan tetep masuk. Bahkan channel-channel niche yang dulu cuma ada di paket kabel premium sekarang hadir di tier streaming yang lebih murah.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Buat kamu sebagai penonton, ini berarti pilihan jadi lebih banyak tapi juga lebih ribet. Dulu cuma bayar satu tagihan kabel, sekarang kamu mungkin butuh langganan YouTube TV buat olahraga, Netflix buat series, Disney+ buat anak, dan mungkin HBO Max buat film. Total biayanya bisa nyampe lebih mahal dari paket kabel dulu — ironis kan? Tapi keuntungannya, kamu punya kontrol penuh: mau nonton apa, kapan, dan di device apa aja. Enak kan nonton live sports di HP saat stuck di macet? Itu yang bikin orang betah di model hybrid ini.

Yang berubah buat industri iklan dan konten lokal

Dampak gede banget terasa di sisi iklan. TV linear dulu andalan brand buat jangkau massa gede sekaligus. Sekarang audiens terfragmentasi ke banyak platform, dan data penayangan jadi lebih granular. Iklan bisa ditargetin berdasarkan siapa yang nonton, bukan cuma jam tayang. Ini bagus buat advertiser tapi bikin publisher kabel tradisional panik — mereka kehilangan leverage jual slot iklan prime time. Di sisi lain, konten lokal dan berita jadi tantangan sendiri. Virtual MVPD jarang bawa channel lokal kecuali deal carriage-nya ketat, jadi station TV lokal harus kreatif bikin app sendiri atau mitra sama platform streaming regional.

Kesimpulannya? Cord-cutting itu real, tapi bukan berarti 'matiin TV'. Lebih tepatnya 'cord-shifting' — orang geser dari infrastruktur kabel ke infrastruktur internet, tapi konten TV linear tetep jadi raja. Buat kamu yang kerja di media, marketing, atau cuma penggemar TV: jangan cepet kesimpulan kalau TV kabel udah abis. Coba deh cek tagihan bulanan kamu — berapa banyak subscription streaming yang sebenernya isinya channel kabel yang sama? Itu bukti nyata kalau TV kabel enggak mati, dia cuma berubah wujud jadi lebih fleksibel, lebih mahal kalau gak hati-hati, dan lebih susah dilacak.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Business: Marketing Tips update dari Digiday.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Digiday.

Baca artikel asli di Digiday→
#BusinessMarketingTips#Digiday#rss