Monks S4 Capital pakai AI agent coding otomatis 48 jam tanpa pengawasan. Begini caranya & kenapa budget token digabung sama gaji karyawan.

Bayangin aja: kamu punya tim developer yang nggak pernah tidur, nggak butuh kopi, dan bisa ngerjain proyek coding kompleks selama 48 jam non-stop tanpa bikin satu pun typo atau logic error. Itu bukan mimpi — itu yang sekarang dilakukan Monks, agensi digital milik S4 Capital. Wesley ter Haar, Chief AI and Revenue Officer di Monks, ngaku mereka sudah mulai mempercayakan pekerjaan coding ke AI agents yang berjalan otonom selama 36 sampai 48 jam tanpa ada manusia yang ngawasi tiap langkahnya. "We had coding agents that were working for 36 to 48 hours and not making mistakes," ujar ter Haar ke Digiday. Hal ini jadi possible soalnya coding itu presisi, aturan-nya ketat, dan cocok banget buat sistem yang bisa ngecek kerja sendiri.

Tapi jangan salah sangka — AI ini nggak dibiarkan liar tanpa arah. Sebelum agent-agent itu jalan, tim manusia dulu yang nulis requirements detail: apa yang mau dibangun, batasan-batasannya apa, dan standar kualitasnya gimana. Ter Haar bilang, "You can drive some of that with decent prompting." Artinya, kualitas output bergantung sepenuhnya ke seberapa baik kamu nge-frame pekerjaan di awal. Kalau prompt-nya longgar, hasilnya bakal longgar juga. Kalau prompt-nya ketat dan lengkap, agent bisa kerja berhari-hari sambil nge-test kode sendiri, nge-review kerja agent lain, dan memastikan semuanya match sama requirements awal. Ini beda banget dengan dulu, dimana developer harus manual bikin scaffolding — instruksi detail buat bagi tugas, passing data antar agent, dan error handling.

Agent sekarang bisa kolaborasi dan cross-check sendiri

Yang bikin sistem ini beda sama generasi sebelumnya adalah kemampuan agent untuk "collaborating and checking each other's work," kata ter Haar. Di proyek multi-hari, beberapa agent bisa bagi-bagi tugas: satu nulis kode, yang lain nulis test case, yang lain nge-review pull request — semua tanpa campur tangan manusia. Mereka nge-run test suite terhadap requirements asli, nge-flag kalau ada deviasi, dan bahkan nge-fix bug yang mereka temuin sendiri. Proses ini mirip code review di tim manusia, tapi terjadi dalam skala kecepatan mesin dan bisa berlangsung terus menerus. Ter Haar menyebut ini "a bit of a no-brainer" buat coding karena nature-nya yang deterministik — beda sama creative writing atau design yang butuh subjective judgment.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Budget token dan gaji karyawan sekarang satuan pot

Implikasi bisnisnya cukup gede: Monks sekarang ngelola budget untuk AI tokens (biaya inference, API calls, compute) dan gaji talenta manusia dari satu pot budget yang sama. Artinya, keputusan "apakah kita hire senior dev lagi atau beli lebih banyak compute buat agent?" jadi trade-off finansial yang langsung. Kalau agent bisa ngerjain 80% pekerjaan coding routine dengan biaya token yang jauh lebih murah dari gaji engineer, maka budget bisa dialokasikan ke talenta level tinggi buat hal yang butuh human judgment: arsitektur sistem, product strategy, client relationship. Ini shift fundamental di cara agensi digital mengelola resource — nggak lagi "manusia vs mesin" tapi "manusia + mesin" dengan accounting yang transparan.

Buat kamu yang kerja di tech atau creative industry, takeaway-nya jelas: skill nulis prompt dan requirements yang presisi sekarang jadi asset bernilai tinggi. Nggak cuma buat pakai ChatGPT sebentar, tapi buat mendesain workflow di mana AI agents bisa kerja otonom berhari-hari. Mulai belajar nulis spec yang unambiguous, definisikan test criteria yang measurable, dan pahami batas-batas apa yang bisa diserahkan ke agent vs apa yang harus tetap di tangan manusia. Monks udah membuktikan model ini work di skala production — pertanyaannya kapan kamu mulai adapt?

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Business: Marketing Tips update dari Digiday.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Digiday.

Baca artikel asli di Digiday→
#BusinessMarketingTips#Digiday#rss