OpenAI lagi ngelakuin strategi iklan yang bikin penasaran. Apa sih yang mereka rencanakan?
Jadi, OpenAI itu lagi ngebut banget di dunia iklan. Dalam waktu cuma 19 minggu, mereka udah berhasil bikin kemitraan komersial, alat pengukuran, dan juga peluncuran manajer iklan. Gila, kan? Tapi, kalau kamu tanya tentang detail di balik semua itu, jawabannya bisa bikin kamu nunggu lama. Ada gap besar antara apa yang udah mereka luncurkan dan apa yang masih samar-samar.
Nah, gap ini yang jadi cerita sebenarnya dari pilot iklan OpenAI. Soalnya, jawaban-jawaban yang belum jelas ini bakal nentuin apakah ini bisa jadi tempat yang tahan lama buat duit iklan, bukan cuma sekadar perhatian doang. Misalnya, minggu Cannes Lions bisa jadi salah satu minggu paling penting buat bisnis iklan mereka ke depannya.
David Dugan, bos iklan global mereka, bener-bener aktif di sana. Dia dengerin para kreator di vila-vila, ngadain pertemuan dengan CMO di antara SPA Villa Belle Plage dan Majestic, serta ketemu bos-bos perusahaan lain saat makan malam. Semua interaksi ini nantinya bakal jadi langkah-langkah nyata, tapi sampai saat itu, detail-detail kecil yang dia bagi itu sama pentingnya, bahkan lebih penting, daripada apa yang dia nggak bilang.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Jadi, apa yang bisa kita ambil dari semua ini? OpenAI lagi berusaha keras untuk bikin iklan mereka jadi lebih menarik dan efektif. Mereka pengen banget jadi tempat yang bisa diandalkan untuk iklan, bukan cuma tempat buat numpang lewat. Ini bisa jadi peluang besar buat mereka dan juga para pengiklan yang mau coba-coba.
Kalau kamu penasaran, ikuti terus perkembangan OpenAI di dunia iklan. Siapa tahu, mereka bakal bikin gebrakan yang bikin kita semua terkejut. Ini adalah waktu yang seru buat ngeliat bagaimana teknologi dan iklan bisa saling berkolaborasi.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
OpenAI lagi ngelakuin strategi iklan yang bikin penasaran. Apa sih yang mereka rencanakan?
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Digiday.
Baca artikel asli di Digiday→