Ripple targetkan pasar corporate treasury $13 triliun untuk RLUSD. Jack McDonald ungkap strategi payments, capital markets, dan ekspansi MiCA di Eropa.
Kamu pasti udah dengar soal stablecoin — token kripto yang nilai nya dikunci ke dolar AS biar gak naik turun kayak Bitcoin. Nah, Ripple baru-baru ini ngeluncurin RLUSD, stablecoin mereka sendiri yang sekarang sudah ngecap market cap $2,4 miliar. Angka itu belum setahun berjalan, jadi growth-nya cukup ngejutin buat pemain baru di pasar yang sudah didominasi USDC dan USDT.
Tapi yang bikin penasaran bukan cuma angka market cap-nya. Jack McDonald, kepala divisi stablecoin Ripple, baru ngomongin soal visi mereka ke depan — dan angka yang dia sebut bikin telinga investor berdiri: $13 triliun. Itu estimasi ukuran pasar corporate treasury global, alias dana-dana perusahaan besar yang dikelola buat kebutuhan operasional, investasi jangka pendek, dan manajemen likuiditas harian. McDonald yakin RLUSD bisa ngambil porsi gede dari kue itu.
Kenapa corporate treasury jadi target utama
Pertanyaannya: kenapa Ripple begitu percaya diri soal corporate treasury? Jawabannya simpel: perusahaan besar butuh cara gerakin uang cepet, murah, dan 24/7 tanpa repot banking hours. Sistem tradisional kayak SWIFT butuh 1-3 hari kerja, biaya tinggi, dan tutup di weekend. RLUSD di blockchain XRP Ledger bisa settle dalam hitungan detik, biaya pecahan sen, dan jalan non-stop. Buat CFO perusahaan multinational, itu game changer banget.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
McDonald ngeluarin data internal Ripple yang nunjukin permintaan dari klien enterprise udah mulai naik tajam sejak kuartal lalu. Banyak perusahaan yang udah pakai jasa pembayaran cross-border Ripple (dahulu dikenal sebagai RippleNet) sekarang mulai eksplorasi stablecoin native buat efisiensi lebih lanjut. Efek network-nya: semakin banyak perusahaan pakai, semakin likuid RLUSD, semakin menarik buat perusahaan lain. Flywheel klasik yang Ripple coba bangun dari nol.
Payments dan capital markets jadi penggerak
Menurut McDonald, dua pilar utama growth RLUSD saat ini adalah payments dan capital markets. Di sisi payments, RLUSD dipakai buat settlement instan antar entitas grup perusahaan, pembayaran vendor lintas negara, bahkan payroll karyawan remote di negara berbeda. Di sisi capital markets, RLUSD mulai dipakai sebagai collateral di protokol DeFi institusional, serta instrumen likuiditas untuk trading desk yang butuh dolar digital yang auditable dan regulasi-compliant.
Yang menarik, Ripple gak cuma andalkan XRP Ledger. RLUSD juga diluncurkan di Ethereum mainnet dari hari pertama, biar kompatibel dengan ekosistem DeFi yang sudah matang — Aave, Curve, Uniswap, dan sebagainya. Strategi multi-chain ini sengaja buat nangkep likuiditas dari dua dunia: kecepatan dan biaya rendah XRPL, plus komposabilitas dan adopsi luas Ethereum. McDonald bilang ini 'strategi tidak memihak chain' yang sengaja dirancang buat enterprise.
Ekspansi ke Eropa lewat lisensi MiCA
Langkah besar berikutnya yang McDonald sebutin adalah ekspansi ke Eropa melalui framework MiCA (Markets in Crypto-Assets Regulation). MiCA adalah regulasi komprehensif pertama dunia buat aset kripto, dan stablecoin termasuk kategori yang paling ketat diatur — butuh whitepaper terstandarisasi, cadangan 1:1 yang teraudit, dan penerbit harus berbadankan legal di UE. Ripple sudah mengajukan permohonan lisensi e-money institution (EMI) di Irlandia, yang kalau disetujui bakal buka pintu ke 27 negara UE sekaligus.
Ini bukan cuma soal compliance. Lisensi MiCA bakal jadi 'stempel halal' buat treasurer korporat Eropa yang biasanya super konservatif soal regulasi. Banyak perusahaan Eropa yang pengen pakai stablecoin tapi takut legal risk-nya. Dengan MiCA license, RLUSD jadi opsi yang aman secara hukum. McDonald optimis proses approval bisa rampung paruh kedua 2025, dan saat itu Ripple bakal agresif marketing ke korporat Eropa — mulai dari manufaktur Jerman sampai fintech Prancis.
Tantangan: persaingan ketat dan kepercayaan
Tapi gak semua mulus. Pasar stablecoin sudah didominasi dua raksasa: USDT Tether (market cap ~$115 miliar) dan USDC Circle (~$35 miliar). Keduanya sudah punya network effect masif — terintegrasi di hampir semua exchange, DeFi protocol, dan payment processor. RLUSD harus membuktikan keunggulan teknis dan regulasi yang nyata buat nggeser incumbent. McDonald akui ini marathon, bukan sprint. Dia bilang Ripple main di lapangan yang beda: fokus enterprise-grade, bukan retail trading.
Tantangan lain: kepercayaan. Ripple masih dalam bayangan gugatan SEC yang berlangsung bertahun-tahun soal XRP. Meskipun RLUSD entitas terpisah dan fully backed, stigma masih menempel. Beberapa treasurer korporat yang saya bicarain (off the record) bilang mereka nunggu track record minimal 12-18 bulan sebelum pertimbangkan alokasi besar. McDonald paham ini, jadi dia push transparansi radikal: attestation bulanan dari firma audit top-tier, real-time reserve dashboard, dan laporan risiko berkala.
Buat kamu yang pengen ikut-ikutan atau cuma penasaran, takeaway praktisnya: pantau adopsi RLUSD di kalangan enterprise besar — bukan volume trading retail. Kalau mulai ada nama-nama besar (Fortune 500) yang resmi announce pakai RLUSD untuk treasury operations, itu sinyal kuat flywheel berputar. Juga perhatikan progress lisensi MiCA di Irlandia; itu milestone regulasi yang bisa unlock pasar Eropa sebenarnya. Dan jangan lupa: stablecoin war baru mulai, jadi diversifikasi risiko tetep wajib — jangan all-in ke satu stablecoin doang.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Crypto update dari CoinDesk.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinDesk.
Baca artikel asli di CoinDesk→


