Komentar negatif soal Bitcoin di media sosial lagi tinggi-tingginya. Menurut data Santiment, ini justru bisa jadi sinyal balik arah.

Kamu lagi scroll Twitter atau X dan lihat banyak orang komplain soal Bitcoin? Nggak salah lihat, kok. Data dari Santiment memang nunjukin kalau komentar bearish soal Bitcoin di media sosial udah naik ke level tertinggi dalam lima minggu terakhir.

Banyak yang bilang crypto lagi mati, Bitcoin bakal anjlok lagi, atau udah capek nunggu bull run. Suasana negativity-nya kerasa banget. Tapi di dunia trading, seringkali justru saat semua orang pesimis, sesuatu yang menarik bisa terjadi.

Santiment bilang fenomena ini bisa jadi early signal buat reversal. Artinya, pasar mungkin udah dekat titik balik. Bukan jaminan sih, tapi historically, extreme fear di social media sering muncul sebelum harga mulai recover.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Kenapa bisa gitu? Konsepnya mirip kontrarian investing. Ketika retail investor udah pada panik dan jualan, smart money biasanya mulai akumulasi di harga diskon. Fear jadi fuel buat bottoming.

Yang perlu kamu ingat: social sentiment itu lagging indicator sekaligus leading indicator. Lagging karena dia nunjukin apa yang lagi terjadi sekarang. Leading karena extreme reading-nya bisa prediksi perubahan arah.

Jadi kalau kamu lihat timeline penuh doomposting soal Bitcoin, jangan langsung ikut panik. Cek dulu data on-chain, lihat volume, dan perhatikan apakah ada divergence di price action.

Practical takeaway-nya gini: jangan buat keputusan investasi cuma gara-gara FOMO atau FUD di timeline. Gunakan social sentiment sebagai salah satu tools, bukan satu-satunya acuan. Kalau fear udah extreme, itu justru waktunya lebih kritis lagi buat analisis, bukan malah ikut takut.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Komentar negatif soal Bitcoin di media sosial lagi tinggi-tingginya. Menurut data Santiment, ini justru bisa jadi sinyal balik arah.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan CoinTelegraph.

Baca artikel asli di CoinTelegraph→
aset digitalbearishblockchaincryptocurrencysentimen