Kira-kira, kalau AI yang bikin obat, siapa yang dapat pujian ya? Yuk, kita bahas soal hak paten dan peran manusia di balik inovasi ini.
Jadi, kamu tahu nggak sih, baru-baru ini ada perusahaan bioteknologi yang namanya Insilico Medicine? Mereka pakai AI untuk menciptakan obat buat penyakit fibrosis paru. Yang menarik, mereka bilang kalau molekul itu ditemukan oleh platform AI mereka. Tapi, saat mau daftar paten, mereka malah nyebutin lima orang, termasuk CEO-nya, sebagai penemu. Kok bisa gitu ya?
Nah, ini jadi pertanyaan besar. Di hukum AS, cuma manusia yang bisa jadi penemu. Jadi, meskipun AI berperan penting, yang dapat kredit tetap manusia. Ini bikin banyak orang penasaran, gimana sih hukum ini bisa mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih?
Ada satu kasus menarik yang diangkat oleh seorang pengacara bernama Ryan Abbott. Dia mencoba mendaftarkan AI bernama DABUS sebagai penemu untuk desain wadah makanan yang lebih baik. Tapi, pengadilan bilang, ya nggak bisa, soalnya penemu itu harus manusia. Jadi, meskipun AI bisa bikin inovasi, tetap aja ada batasan hukum yang bikin mereka nggak bisa diakui.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Kita juga harus ingat, hukum hak paten itu sebenarnya dibuat untuk mendorong inovasi. Jadi, kalau AI nggak bisa dilindungi, bisa jadi investor jadi ragu untuk mendanai pengembangan obat yang dibuat AI. Ini jadi masalah besar bagi industri bioteknologi.
Sekarang, kebijakan di kantor paten AS juga lagi berubah-ubah. Dulu, di zaman Biden, mereka sempat ngasih panduan tentang siapa yang bisa dianggap sebagai penemu. Tapi, setelah Trump masuk, mereka bilang kalau AI itu cuma alat, kayak kalkulator. Jadi, nggak perlu disebut-sebut lagi. Ini bikin banyak perusahaan yang pakai AI jadi bingung.
Insilico sendiri masih butuh manusia untuk menyintesis obat, bikin variasi, dan uji coba. Jadi, walaupun AI yang bantu, tetap aja manusia yang harus bertanggung jawab. Pertanyaannya, seberapa banyak kontribusi manusia yang dibutuhkan biar bisa dianggap sebagai penemu? Ini yang jadi perdebatan di kalangan ahli hukum.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Kira-kira, kalau AI yang bikin obat, siapa yang dapat pujian ya? Yuk, kita bahas soal hak paten dan peran manusia di balik inovasi ini.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→


