Eropa lagi dilanda gelombang panas ekstrem, dan ini bikin beberapa pembangkit listrik harus shutdown. Penasaran kenapa?

Eropa sekarang lagi berjuang menghadapi gelombang panas yang bikin suhu naik gila-gilaan. Di Prancis, suhu udah tembus 44 °C, dan itu jadi hari terpanas sejak catatan suhu dimulai tahun 1947. Panasnya bikin orang-orang pada nyalain AC dan kipas angin, tapi ada dampak besar di sektor energi. Beberapa pembangkit listrik, terutama yang nuklir, terpaksa shutdown karena suhu air di sungai yang digunakan untuk pendinginan udah terlalu tinggi.

Salah satu reaktor di pembangkit nuklir Golfech di Prancis selatan udah shutdown gara-gara suhu air di sungai Garonne yang dipake buat pendinginan udah terlalu panas. Ini langkah pencegahan, soalnya regulasi Prancis ngebatesin suhu air yang bisa dibuang kembali ke sungai. Kalo airnya terlalu panas, ya terpaksa deh shutdown. Dan ini bukan cuma masalah di satu tempat, banyak reaktor lain juga harus dibatasi operasinya.

Tapi bukan cuma nuklir yang kena imbasnya. Pembangkit listrik tenaga air juga terdampak, soalnya kondisi kering bikin pasokan air berkurang. Di lima bulan pertama tahun 2025, pasokan tenaga air di Eropa turun 13% dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas juga merasakan dampak dari suhu tinggi ini. Lima pembangkit gas di Inggris udah ngelapor kalo output mereka turun total sekitar 2,5 gigawatt.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Permintaan energi juga melonjak, terutama karena orang-orang butuh pendinginan. Penggunaan AC di Inggris udah dua kali lipat dibanding tahun 2022. Dan yang bikin miris, tantangan ini diperkirakan bakal makin parah seiring dengan perubahan iklim yang bikin gelombang panas semakin sering dan intens. Menurut International Energy Agency, penggunaan energi untuk pendinginan diperkirakan bakal dua kali lipat pada tahun 2050.

Lalu, apa solusinya? Beberapa ahli bilang, utilitas listrik bisa beradaptasi dengan merencanakan puncak permintaan di musim panas, bikin permintaan pendinginan lebih fleksibel, dan memperkuat jaringan listrik buat suhu tinggi. Tapi, semua perubahan ini bisa jadi mahal. EDF, perusahaan yang ngelola pembangkit nuklir di Prancis, memperkirakan biaya upgrade bisa mencapai sekitar €600 juta per tahun selama 15 tahun ke depan.

Jadi, gelombang panas ini bukan cuma bikin kita kepanasan, tapi juga bisa berdampak besar pada pasokan energi di Eropa. Kita perlu waspada dan siap menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan, terutama soal energi dan iklim.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Eropa lagi dilanda gelombang panas ekstrem, dan ini bikin beberapa pembangkit listrik harus shutdown. Penasaran kenapa?

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.

Baca artikel asli di MIT Technology Review→
Eropaenergigelombang panasiklimpembangkit listrik