AI bikin konten banyak banget, tapi gimana cara bedain yang asli? Simak teknologi watermark dari Google dan tantangannya.

Kamu pasti udah denger tentang AI yang bisa bikin gambar dan video, kan? Nah, ternyata dalam waktu singkat, AI udah bikin lebih dari 100 miliar konten! Bayangkan, dulu manusia butuh 149 tahun untuk bikin 1,5 miliar gambar setelah kamera ditemukan. Sekarang, AI cuma butuh 18 bulan buat mencapai angka yang sama. Gila, kan?

Google baru aja ngumumin di I/O bahwa mereka udah pakai teknologi watermark yang disebut SynthID. Ini tuh kayak label yang bisa ngebantu orang buat tahu mana konten yang dihasilkan AI dan mana yang asli. Tapi, meskipun ada teknologi ini, masalah disinformasi masih jadi tantangan besar. Soalnya, orang bisa aja tetap nyebarin info palsu meski ada watermark.

SynthID ini diharapkan bisa jadi solusi buat masalah keaslian konten di internet. Tapi, kita semua tahu, teknologi itu bisa dimanfaatkan dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya, ada kemungkinan orang-orang bisa bikin konten yang terlihat asli padahal sebenarnya palsu. Jadi, kita harus tetap waspada dan kritis terhadap apa yang kita lihat di internet.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Satu hal yang menarik, Google nggak sendirian. Banyak perusahaan lain juga lagi ngembangin teknologi serupa buat ngebantu orang ngecek keaslian konten. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana cara kita sebagai pengguna bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Ini jadi PR besar buat kita semua, soalnya informasi yang salah bisa bikin kerusuhan.

Jadi, meskipun ada teknologi kayak SynthID, kita tetap harus jeli dan nggak gampang percaya sama apa yang kita lihat. Selalu cek sumber dan jangan ragu buat nanya atau cari tahu lebih lanjut. Di era digital ini, pengetahuan adalah kunci untuk menghadapi disinformasi.

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

Ars Technica

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari Ars Technica.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.

Baca artikel asli di Ars Technica
#Technology#ArsTechnica#rss