Laporan terbaru dari Gedung Putih bilang kalau Trump bisa bawa perubahan besar di dunia sains. Tapi, beneran bisa nggak sih?
Jadi, baru-baru ini Gedung Putih ngeluarin laporan yang judulnya "Science: A New Golden Age". Di sini, mereka bilang kalau sains di Amerika lagi kurang greget dan butuh perbaikan. Nah, mereka percaya kalau pemerintahan Trump bisa jadi solusi buat masalah ini. Keren, kan? Tapi, ada yang aneh juga sih, soalnya selama ini Trump lebih sering ngurangin dana untuk riset.
Laporan ini kayak campuran antara masalah nyata dan keluhan yang kurang jelas. Di satu sisi, mereka bilang konsep-konsep dari laporan lama yang berjudul "Science, the Endless Frontier" masih penting. Tapi di sisi lain, situasi sekarang udah beda banget, dan butuh revisi besar-besaran. Jadi, apa yang mereka tawarkan? Ya, agak bingung juga sih.
Yang bikin laporan ini makin aneh, banyak hal yang diabaikan. Misalnya, mereka nggak bahas tentang kebijakan yang malah bikin kemajuan sains terhambat. Ada juga beberapa masalah yang udah sering dibahas di komunitas ilmiah, tapi di sini seolah-olah baru muncul. Jadi, kayak ada yang kurang pas gitu.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Laporan ini juga campur aduk antara keluhan politik dan ide-ide yang kurang matang. Plus, ada pengaruh dari Silicon Valley yang bikin perspektif tentang inovasi jadi berbeda. Michael Kratsios, yang jadi direktur OSTP, sebelumnya kerja bareng Peter Thiel, jadi bisa jadi ini pengaruhnya. Tapi, apakah ini bakal seimpact laporan yang lama? Kayaknya sih enggak deh.
Jadi, intinya laporan ini bikin kita mikir, apa bener Trump bisa bawa perubahan di dunia sains? Atau ini cuma omong kosong doang? Yang jelas, banyak yang perlu dipikirkan sebelum kita percaya sepenuhnya. Kamu setuju nggak?
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Laporan terbaru dari Gedung Putih bilang kalau Trump bisa bawa perubahan besar di dunia sains. Tapi, beneran bisa nggak sih?
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.
Baca artikel asli di Ars Technica→


