Laser bisa jadi solusi baru untuk ambil uranium dari limbah nuklir. Penasaran gimana caranya?
Jadi, di luar kota kecil Paducah, Kentucky, ada tumpukan limbah nuklir yang mengandung uranium. Nah, sebuah perusahaan bernama Global Laser Enrichment (GLE) lagi nyoba pakai teknologi laser buat ngolah limbah ini. Bayangkan aja, mereka mau menjadikan limbah nuklir ini sebagai tambang uranium di permukaan. Gimana caranya? Yuk, kita bahas!
Laser itu lebih efisien dibandingkan metode pengayaan konvensional yang biasa dipakai. Biasanya, pengayaan uranium dilakukan dengan centrifuge yang butuh banyak mesin dan energi. Tapi dengan laser, kamu bisa ngelakuin semua itu dengan lebih sedikit mesin dan energi. Jadi, ini bisa jadi solusi yang lebih hemat dan ramah lingkungan!
Kondisi geopolitik juga berpengaruh, lho! Gara-gara perang di Ukraina, banyak negara yang membatasi impor uranium dari Rusia. Ini bikin permintaan uranium meningkat, dan GLE melihat kesempatan emas untuk menawarkan teknologi baru mereka. Jadi, ada peluang besar buat perusahaan-perusahaan yang mau masuk ke pasar pengayaan uranium.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Walaupun teknologi laser ini terdengar menjanjikan, GLE masih dalam tahap uji coba. Mereka baru berhasil mengolah beberapa ratus kilogram uranium di uji coba pilot. Mereka berharap bisa mulai operasi komersial penuh di tahun 2030. Jadi, kita harus sabar menunggu hasilnya!
Uranium yang ada di bumi ini cukup banyak untuk menjaga reaktor tetap berjalan selama beberapa dekade. Namun, dengan meningkatnya minat terhadap energi nuklir, mungkin akan ada kekurangan jangka pendek atau lonjakan harga. Di sinilah teknologi pengayaan laser bisa membantu mengatasi masalah ini.
GLE juga punya rencana unik. Alih-alih mengolah uranium yang baru ditambang, mereka mau mulai dengan mengolah limbah nuklir yang sudah ada. Mereka punya kontrak dengan Departemen Energi AS untuk mengolah limbah di Paducah. Dengan cara ini, mereka bisa mengolah uranium yang tersisa dari proses pengayaan lama dan memasukkannya kembali ke rantai pasokan.
Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.
MIT Technology Review
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari MIT Technology Review.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→

