Lobi kabel gugat FCC soal penghapusan batas kepemilikan stasiun TV, khawatir tagihan TV naik gara-gara biaya retransmisi melonjak.

Lobi industri kabel baru-baru ini ngasih tahu Federal Communications Commission (FCC) kalau mereka siap ke pengadilan buat ngeblok keputusan kontroversial soal penghapusan National Television Ownership Rule. Aturan ini sebenernya ngasih batas berapa banyak stasiun TV siaran yang bisa dimiliki sama satu perusahaan doang. Nah, kelompok lobi ini mewakili pemain gede kayak Comcast, Charter, dan berbagai operator kabel lain. Mereka nggak main-main, soal ini langsung ancam tagihan TV bulanan kamu bisa bengkak gara-gara biaya retransmisi yang melonjak.

Kenapa aturan ini dihapus dan siapa yang untung?

FCC memutuskan buat nge-repeal aturan batas kepemilikan nasional ini, dan keputusan itu bikin grup stasiun TV siaran besar jadi punya leverage lebih kuat. Bayangin aja, kalo satu perusahaan bisa beli stasiun TV sebanyak-banyaknya tanpa batas, mereka bisa nge-dominasi pasar lokal. Akibatnya, waktu negosiasi kontrak retransmisi sama provider kabel atau satelit, posisi mereka jadi nganggep banget. Mereka bisa minta fee yang jauh lebih tinggi, dan siapa yang bayar? Tentu aja konsumen di ujung tombak — yaitu kamu yang tiap bulan bayar tagihan TV langganan.

Lobi kabel bilang keputusan FCC ini "arbitrarily and capriciously ignores the harms" — artinya FCC seolah-olah nggak peduli sama dampak negatif yang pasti bakal timbul. Menurut mereka, nggak ada alasan logis buat ngilangin batas ini selain ngasih keuntungan buat grup stasiun besar. Padahal aturan ini udah ada puluhan tahun buat mencegah konsentrasi kekuasaan media di tangan sedikit orang. Sekarang batasnya ilang, pintu buat konsolidasi masif terbuka lebar.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Konteks merger Charter-Cox baru-baru ini

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari Ars Technica.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.

Baca artikel asli di Ars Technica→
#Technology#ArsTechnica#rss