Meta baru saja menandatangani kontrak dengan Overview Energy untuk mendapatkan listrik surya dari luar angkasa. Teknologi space-based solar power ini bisa kirim energi ke Bumi kapan saja, bahkan di malam hari.
Bayangin deh, kamu bisa dapet listrik surya pas tengah malam. Bukan dari baterai, tapi langsung dari luar angkasa.
Meta baru aja bikin langkah berani ke arah itu. Mereka jadi klien pertama Overview Energy, startup yang mau kirim listrik dari orbit ke Bumi.
Kontrak ini memang masih kecil, tapi maknanya gede banget. Ini bukti konsep space-based solar power mulai dilirik perusahaan teknologi besar.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Cara kerjanya gini: satelit di orbit kumpulin sinar matahari 24/7, terus kirim ke Bumi pakai microwave atau laser. Energi yang sampai bisa langsung dipakai, kapan aja.
Bedanya sama panel surya biasa? Di luar angkasa nggak ada malam, nggak ada awan, nggak ada musim. Efisiensinya bisa jauh lebih tinggi.
Tentu ada tantangan. Biaya launch satelit masih mahal, konversi energinya juga butuh teknologi canggih. Tapi harga launch udah turun drastis beberapa tahun terakhir.
Meta pilih jadi early adopter di sini. Mereka butuh energi bersih dalam jumlah masif buat data center AI yang makin gede.
Ini bukan sekadar CSR atau greenwashing. Meta butuh solusi energi yang scalable dan reliable buat bisnis jangka panjang mereka.
Buat kamu yang kerja di tech atau energy, ini sinyal penting. Space-based solar power udah keluar dari tahap sci-fi, mulai masuk commercial feasibility.
Practical takeaway-nya: pantau perkembangan ini. Kalau teknologi ini matang, bisa bikin ulang seluruh landscape energi terbarukan. Dan yang mulai duluan, bakal dapet keuntungan kompetitif.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Meta baru saja menandatangani kontrak dengan Overview Energy untuk mendapatkan listrik surya dari luar angkasa. Teknologi space-based solar power ini bisa kirim energi ke Bumi kapan saja, bahkan di malam hari.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan TechCrunch.
Baca artikel asli di TechCrunch→


