Kisah Father Mark, yang sekaligus linguist, pastor, dan pronouncer Scripps Spelling Bee, bikin kamu penasaran soal kata-kata unik yang dia selipkan di gereja.
Brian Sietsema, atau yang lebih dikenal sebagai Father Mark, punya satu kata favorit: akimbo. Kata ini muncul pertama kali pas dia masih kecil baca cerita Poe tentang bulan, dan sampai sekarang masih jadi andalan dia buat ngulik etimologi.
Kisahnya dimulai dari garage sale di rumah temennya, cuma bawa 50 sen, tapi pulang bawa tiga buku, termasuk kumpulan cerita Edgar Allan Poe. Di situ, dia nemuin kata akimbo yang belum pernah didengar siapa‑siapa, bahkan guru‑gurunya.
Rasa penasaran itu bikin dia terjun ke dunia kamus. Dari sekolah dasar sampai kuliah, dia rajin ngumpulin kamus, sampai akhirnya di MIT nemuin arti akimbo: berdiri dengan tangan di pinggul, siku terbuka lebar. Dari situ, kecintaannya pada kata makin gede.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Setelah lulus MIT, kariernya melesat ke Merriam‑Webster. Di sana, dia jadi pronunciation editor, ngatur cara kata diucapkan di edisi ke‑10 kamus. Dia juga ngenalin International Phonetic Alphabet (IPA) jauh sebelum orang lain pakai.
Tapi hidupnya nggak cuma soal kamus. Di tengah kariernya, dia memutuskan masuk seminari Greek Orthodox, jadi deacon, bahkan dewan arsitek bahasa liturgi. Jadi, dia bisa nyanyiin chant Yunani dengan aksen yang pas, bukan cuma ngelantur huruf‑huruf.
Pada 2003, Scripps Spelling Bee butuh pronouncer baru setelah yang lama meninggal. Karena istri dulu pernah jadi panelis, Father Mark diundang jadi associate pronouncer. Dari situ, dia jadi otak di balik pertanyaan akar kata speller, sekaligus kadang jadi pronouncer di babak awal.
Sebagai panelis, dia bantu nyusun daftar kata dari 500.000 kata di kamus Merriam‑Webster. Dia cari kata yang “rooty” buat babak awal, dan kata yang bikin otak meledak buat babak akhir. Semua demi bikin kompetisi tetap seru sampai kata terakhir.
Selain itu, dia pakai keahlian linguistiknya buat bantu gereja. Contohnya, dia bantu menjelaskan terjemahan logismoi dalam debat tentang komuni di masa pandemi, menyeimbangkan antara iman dan akal sehat.
Hari ini, Father Mark tetap aktif di gereja Holy Trinity di Lansing, sambil terus ngurus tim pronouncer Spelling Bee. Dia senang lihat anak‑anak muda jadi detektif kata, menelusuri akar‑akar bahasa dengan semangat.
Intinya, dari garage sale sampai panggung nasional, kata akimbo tetap jadi simbol semangatnya: berdiri tegak, tangan di pinggul, siap menantang apa pun—baik itu kamus, gereja, atau kompetisi spelling bee.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Kisah Father Mark, yang sekaligus linguist, pastor, dan pronouncer Scripps Spelling Bee, bikin kamu penasaran soal kata-kata unik yang dia selipkan di gereja.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→


