PsiQuantum berusaha membuat komputer kuantum dari cahaya. Apakah ini bisa jadi kenyataan? Yuk, simak!

Jadi, bayangin deh, ada sebuah mesin yang bisa mengubah cara kita melihat dunia. PsiQuantum, sebuah perusahaan yang didirikan oleh empat fisikawan dari Inggris, lagi berusaha bikin komputer kuantum yang bisa ngebantu kita menyelesaikan masalah yang sekarang ini butuh waktu bertahun-tahun buat diselesaikan. Mereka pengen bikin komputer ini dari cahaya, dan itu udah jadi misi mereka sejak 2016. Gimana sih cara kerjanya?

Komputer kuantum ini bakal ada di ruangan yang mirip pabrik es krim, tapi isinya kabinet baja tahan karat yang dingin banget. Di dalam kabinet itu, ada ratusan chip yang bakal ngolah partikel cahaya. Setiap foton harus diperhitungkan, soalnya dengan ngukur posisi foton secara tepat, kita bisa jawab pertanyaan yang bahkan komputer biasa butuh waktu jutaan tahun buat nyelesain. Keren, kan?

Tapi, jangan salah, PsiQuantum bukan satu-satunya yang ngerjain ini. Banyak perusahaan lain yang juga punya visi yang sama. Yang bikin PsiQuantum beda adalah mereka udah dapet investasi gede dan kerjasama dengan pabrikan chip besar. Tahun lalu, mereka berhasil ngumpulin dana sebesar $1 miliar dan mulai bangun fasilitas di Chicago. Mereka juga punya rencana buat bangun tempat di Australia yang bakal siap beroperasi di 2027. Gak main-main, kan?

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Salah satu tujuan besar mereka adalah bisa memprediksi efek enzim cytochrome P450, yang sering ngurai obat di tubuh kita. Bayangin aja, kalau perusahaan farmasi bisa tahu lebih tepat gimana cara kerja enzim ini, mereka bisa bikin obat yang lebih efektif dalam waktu yang lebih cepat. Sekarang, proses ini bisa makan waktu lebih dari 10 tahun, tapi PsiQuantum pengen ngebawa waktu itu turun jadi cuma empat menit. Gila, kan?

Tapi, tantangan terbesar mereka adalah bikin komputer kuantum yang bener-bener bisa dipake. Sekarang ini, prototipe yang ada masih terlalu kecil dan sering error. PsiQuantum pengen bikin komputer yang bisa ngerjain tugas yang jauh lebih rumit dari komputer biasa. Mereka percaya, dengan ngumpulin cukup banyak qubit, mereka bisa bikin komputer yang bisa ngerjain hal-hal yang sekarang ini gak mungkin dilakukan.

Satu hal yang bikin PsiQuantum optimis adalah mereka menggunakan foton sebagai qubit. Foton ini punya banyak keunggulan, seperti bisa mempertahankan keadaan kuantum lebih lama. Tapi, ada tantangan juga, soalnya foton itu cepat dan gampang tersebar. Jadi, mereka harus cari cara supaya foton bisa saling berinteraksi dengan baik. Untungnya, mereka udah nemuin cara untuk 'menipu' interaksi antara foton dengan menggunakan jaringan beam splitters dan detektor.

Sejak itu, PsiQuantum mulai mengembangkan teknologi mereka. Mereka juga harus bikin rantai pasokan yang kuat untuk mendukung produksi chip mereka. Mereka bahkan ngeluarin banyak dana buat bikin sistem pendingin yang bisa menjaga chip mereka tetap dingin. Semua ini demi mencapai tujuan besar mereka: bikin komputer kuantum yang bermanfaat secara komersial.

Tapi, semua ini bukan tanpa risiko. PsiQuantum harus buktikan bahwa semua yang mereka rencanakan bisa jadi kenyataan. Mereka udah masuk ke tahap evaluasi pemerintah yang ketiga untuk melihat mana perusahaan kuantum yang bisa sukses. Dan sekarang, mereka lagi mendekati momen penting, di mana semua kerja keras dan investasi yang udah mereka lakukan harus membuahkan hasil.

Jadi, apakah PsiQuantum bisa jadi pelopor dalam dunia komputer kuantum? Kita tunggu aja kabar selanjutnya. Yang pasti, mereka udah berusaha keras dan punya visi yang ambisius. Siapa tahu, tahun depan kita bisa lihat komputer kuantum pertama mereka beroperasi. Penuh harapan, ya!

Technology lagi bergerak cepat, jadi jangan cuma lihat headline.

MIT Technology Review

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Technology update dari MIT Technology Review.

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.

Baca artikel asli di MIT Technology Review
#Technology#MITTechnologyReview#rss