Reed Jobs, anak Steve Jobs, kini lebih fokus ngobrolin obat kanker daripada nama besar keluarganya. Kenapa ya?

Jadi, kamu tahu kan siapa Reed Jobs? Yup, dia adalah anaknya Steve Jobs yang legendaris. Tapi, kali ini Reed lebih memilih buat ngobrolin soal inovasi di dunia bioteknologi, terutama soal obat kanker. Dia bilang, fokusnya sekarang adalah menciptakan solusi yang bisa membantu banyak orang, bukan cuma hidup dalam bayang-bayang nama besar papanya.

Reed sekarang lagi ngebangun perusahaan bernama Yosemite. Dulu, waktu kita ngobrol di TechCrunch Disrupt hampir tiga tahun lalu, Yosemite masih baru banget dan dunia bioteknologi lagi terpuruk setelah pandemi. Sekarang, timnya udah ada 17 orang dan mereka lagi siap-siap buat ngeluncurin beberapa obat yang bakal jadi blockbuster. Seru banget, kan?

Satu hal yang bikin Reed excited adalah banyak obat yang udah mau habis masa patennya. Ini jadi peluang besar buat mereka, soalnya bisa muncul banyak inovasi baru di pasar. Reed juga bilang, AI sekarang jadi bagian penting dari apa yang mereka kerjain di Yosemite. Dulu, AI cuma jadi bahan obrolan, sekarang udah jadi alat yang bikin proses pengembangan obat jadi lebih cepat dan efisien.

Advertisement

Advertisement

Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.

Reed ngaku, dia nggak nyangka Yosemite bisa berkembang secepat ini. Dia juga percaya, dengan teknologi yang ada sekarang, mereka bisa bikin obat yang lebih efektif dan terjangkau. Jadi, bukan cuma buat orang kaya doang, tapi semua orang bisa merasakannya. Ini yang bikin dia semangat setiap harinya.

Jadi, kalau kamu penasaran kenapa Reed lebih suka bahas obat kanker daripada nama belakangnya, jawabannya simpel: dia pengen bikin perbedaan. Dia pengen jadi bagian dari solusi, bukan cuma sekadar anak dari orang terkenal. Dan dengan semua inovasi yang ada, kayaknya dia ada di jalur yang tepat.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Reed Jobs, anak Steve Jobs, kini lebih fokus ngobrolin obat kanker daripada nama besar keluarganya. Kenapa ya?

Sumber asli

Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan TechCrunch.

Baca artikel asli di TechCrunch→
AIbioteknologiinovasiobat kankerstartup