Stoke Space raih $1M Seri E, total $2,3M sebelum luncuran perdana. Roket Nova Block 2 target angkat 15 ton fully reusable.
Stoke Space baru saja ngumumin kalau mereka berhasil ngumpulin $1 miliar lewat putaran pendanaan Seri E, dan ini bikin total uang yang udah terkumpul jadi $2,3 miliar — angka yang bener-bener gila buat perusahaan yang belum pernah nyoba luncurin roket ke orbit sekalipun. Perusahaan berbasis Washington ini dikepala sama Andy Lapsa, dan putaran dana ini dikepalain bareng sama Point72 Ventures sama Spark Capital. Uang segede ini nggak cuma buat ngejar luncuran perdana tahun depan, tapi juga buat percepatin pengembangan versi baru roket Nova yang mereka sebut Block 2. Jadi ceritanya, sebelum roket pertama mereka terbang, mereka udah siapin versi yang lebih gede dan lebih kuat.
Menurut Lapsa, dana baru ini bakal dipake buat ngejar target luncuran perdana Nova tahun 2025, sambil di sisi lain tim engineering-nya udah mulai desain ulang roket jadi Block 2. Bedanya, Block 2 ini dirancang bisa angkat payload sampe 15 metrik ton ke low-Earth orbit dalam konfigurasi fully reusable — artinya kedua stage roketnya bisa balik ke bumi dan dipakai lagi, nggak cuma stage pertama doang kayak Falcon 9. Ini lompatan besar banget dari desain awal Nova yang targetnya cuma angkat sekitar 5 ton. Stoke berani all-in ke konsep fully reusable soalnya mereka percaya itu satu-satunya cara biaya launch bisa turun drastis, mirip kayak apa yang udah dibuktikin SpaceX tapi dengan pendekatan teknis yang beda.
Roket Nova Makin Gede: Block 2 Bisa Angkat 15 Ton
Yang bikin Stoke Space beda sama player lain kayak Rocket Lab atau Relativity Space adalah fokus mereka ke reusability stage kedua — bagian roket yang biasanya terbakar masuk atmosfer atau jadi space junk. Nova diranceng dengan stage kedua yang bisa balik ke bumi lewat reentry capsule yang unik, nggak butuh landing legs kayak Falcon 9. Teknologi ini masih dalam tahap pengujian, tapi kalau berhasil, Stoke bakal jadi perusahaan pertama komersial yang bisa reuse stage kedua secara rutin. Block 2 bakal memperbesar diameter roket, nambahin mesin, dan optimize struktur biar bisa handle payload 15 ton sambil tetep fully reusable. Ini ngasih signal ke pasar bahwa Stoke nggak cuma mau jadi player niche untuk smallsat, tapi serius ingin garap pasar medium-lift yang saat ini didominasi Falcon 9.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Konteksnya, industri launch sekarang lagi kebut banget sama kapasitas. SpaceX memang rajanya dengan cadence launch yang gila, tapi pelanggan besar — baik komersial, militer, maupun pemerintah — pengen alternatif biar nggak ketergantungan ke satu provider. Di sinilah peluang Stoke, Rocket Lab dengan Neutron, ULA dengan Vulcan, dan Blue Origin dengan New Glenn berusaha masuk. Tapi Stoke punya keunikan: mereka bangun dari nol dengan arsitektur fully reusable sejak hari pertama, bukan retrofit roket expendable jadi reusable. Uang $2,3 miliar ini modal yang cukup gede buat ngejar timeline agresif mereka, tapi juga bikin tekanan: investor bakal nuntut hasil, dan kegagalan luncuran pertama bisa bikin reputasi hancur sebelum Block 2 sempat terbangun.
Kenapa Ini Bikin Industri Launch Panik
Buat kamu yang nggak terlalu follow ruang angkasa, ini penting soalnya biaya launch turun berarti akses ke orbit jadi lebih murah dan terbuka buat lebih banyak player — dari startup satelit internet, observasi bumi, sampai manufaktur di orbit. Stoke Space adalah salah satu taruhan besar VC soal masa depan ekonomi luar angkasa, dan $2,3 miliar dana sebelum luncuran pertama itu langka banget. Biasanya perusahaan baru dapet dana gede setelah flight heritage terbentuk. Fakta bahwa Point72 dan Spark Capital mau taruh uang segede ini di pre-launch company menunjukkan keyakinan besar ke tim Lapsa dan arsitektur Nova. Tapi ingat, ruang angkasa nggak maaf: satu anomaly saat luncuran bisa mundurin program bertahun-tahun. Tahun 2025 bakal jadi tahun make-or-break buat Stoke, dan kita semua bakal nonton apakah mereka bisa nyetok janji fully reusable medium-lift atau jadi cautionary tale baru di industri ini.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Technology update dari Ars Technica.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Ars Technica.
Baca artikel asli di Ars Technica→


