Jaringan seperti Acurast dan Phase ngajak kamu 'ngepinjam' HP buat jalanin tugas AI — dari scraping web sampai hosting agent. Sudah 335 ribu HP daftar, tapi bisa nggak ini ngefis data center raksasa?

Bayangin aja: di saku kamu ada prosesor, memori, dan koneksi internet yang cuma dipake buat scroll TikTok atau balas WA. Sekarang kalikan sama 7,68 miliar koneksi mobile di dunia per Oktober 2026. Itu lautan daya komputasi yang nganggur — dan jaringan AI terdesentralisasi lagi serius ngincarnya. Ide-nya simpel: kenapa mesti bangun data center raksasa yang boros energi dan air, kalo kita bisa 'numbuhin' infrastruktur dari HP yang udah ada di tangan orang?

Acurast, salah satu pemain utama di ruang ini, klaim udah onboarding lebih dari 335 ribu smartphone ke jaringan mereka. Co-founder Alessandro De Carli bilang, rata-rata 40 ribu di antaranya aktif tiap hari, nyediain kapasitas buat tugas mulai dari web scraping, cybersecurity, sampai AI inference dan hosting agent. Menurut dia, HP justru lebih efisien buat workload tertentu — apalagi yang butuh 'unfiltered access' ke internet atau lingkungan isolated buat confidential computing. Server memang unggul di multi-threading, tapi HP menawarkan compute efficiency yang nggak bisa ditandingi, bilang De Carli.

HP jadi proxy buat AI agent yang diblokir data center

Proyek lain, Phase, ambil pendekatan beda. Mereka luncurin Phase Proxy Oktober lalu, yang ngijinin pemilik HP sediain koneksi internet dan validasi blockchain buat AI agent. Founder Kirill Eves jelasin, website rutin nge-block atau rate-limit traffic otomatis yang datang dari data center. Solusi Phase: pakai koneksi mobile dan residential milik user sebagai proxy. Harganya? 0,5 USDT per 1.000 request dan 1GB traffic. Rencana selanjutnya, Phase Router, bakal arahin request simpel ke model yang jalan di HP di jaringan, atau ke provider besar kayak OpenAI dan Anthropic — tergantung kompleksitas tugas, kemampuan model, performa, dan biaya.

Jaringan AI terdesentralisasi yang berguna harus dinilai dari apakah dia solve masalah yang customer mau bayar, bukan dari harga token atau jumlah node.

Markus Levin, Co-founder XYO

Tapi nggak semua orang optimis. Markus Levin, co-founder XYO, percaya jaringan terdesentralisasi lebih cocok buat ngumpilin dan verifikasi data real-world daripada jalanin model AI. HP dan sensor bisa kasih info lokal yang dataset terpusat lewatkan, tapi hanya kalo datanya akurat dan tahan manipulasi. Dia nagetin: jangan terpukau sama node count atau token price — tanya aja, 'masalah apa yang disolve ini, dan siapa yang mau bayar?' Pertanyaan itu lebih keras dari yang kelihatannya.

Tantangan nyata: koordinasi ribuan HP yang nakal

Masalah teknisnya gampang di kertas, tapi bikin pusing di lapangan. Data center punya hardware, power, dan koneksi yang predictable. HP? Sering disconnect, overheat, kehabisan baterai, ganti jaringan, dan punya spec yang bervariasi banget. Studi 2025 nyobain kluster HP kecil buat image recognition — hasilnya kompetitif, tapi di lingkungan controlled. Google Research bahas punya temuan menarik: 20 HP bekas bisa handle peak workload kelas 75+ mahasiswa, grading-nya lebih cepat dari cloud standar kampus. Tapi lagi, device-nya diatur rapi di lab, nggak tersebar di dunia.

Di dunia nyata, jaringan terdistribusi harus deal dengan HP yang 'nakal'. Di blockchain kayak Ethereum, kapasitas dibatasi oleh latency komunikasi antar node dan spec device terendah. Kalo tugas dibagi ke beberapa HP, koneksi lambat atau device yang disconnect bisa bikin chaos. Lebih gampang kalau tugas independen didistribusikan ke HP yang available. Masih, De Carli optimis: 'Menjalankan model AI di HP udah bukan tantangan utama — bikin ekonominya masuk akal sambil koordinasi puluhan ribu HP biar kayak cloud andal, itu trik aslinya.'

Ekonomi token: siapa bayar, siapa dapet?

Pakai HP existing nggak butuh modal gede kayak bangun data center, tapi biaya tetap ada: konektivitas, koordinasi, dan insentif buat operator. Di Acurast, nggak ada fixed figure buat reward. Bayaran bergantung dari device uptime, spec hardware (benchmark performance), total ACU yang di-stake, dan permintaan komputasi aktif dari developer. Operator bersaing buat pool reward yang didanai inflasi, bukan bayaran langsung dari customer. Phase beda: porsi dari service revenue dipakai buat beli PHASE di pasar terbuka, terus didistribusikan ke node operator berdasarkan kontribusi mereka. Jadi, insentifnya tied ke usage nyata — bukan cuma 'nge-stake dan nunggu'.

  • Acurast: 335k+ HP onboard, ~40k aktif harian, reward dari inflation pool berbasis uptime & spec
  • Phase: Proxy residential buat AI agent, 0,5 USDT/1k request, reward dari revenue sharing
  • Google Research: 20 HP bekas > cloud kampus buat grading 75+ mahasiswa (controlled env)

Buat kamu yang punya HP lama nganggur di laci: ini bisa jadi peluang side income — tapi jangan harap kaya mendadak. Reward bergantung sama seberapa sering HP online, spec-nya seberapa bagus, dan apakah ada developer yang butuh komputasi saat itu. Sisi bagusnya: kamu nggak perlu beli hardware khusus. Sisi risikonya: baterai cepet habis, HP panas, dan earnings fluktuatif. Kalau mau coba, mulai dari platform yang transparan soal ekonomi token-nya, dan pastiin HP kamu nggak jadi 'batu' karena overheat.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Jaringan seperti Acurast dan Phase ngajak kamu 'ngepinjam' HP buat jalanin tugas AI — dari scraping web sampai hosting agent. Sudah 335 ribu HP daftar, tapi bisa nggak ini ngefis data center raksasa?

AcurastDePINPhaseekonomi tokenkomputasi terdistribusi