Apple terus memperketat privasi di Safari, tapi WPP bilang bisnis data mereka aman karena udah pindah ke clean room kayak InfoSum. Gimana caranya? Baca selengkapnya di sini.
Apple lagi serius banget soal privasi, dan kali ini sasaran utamanya adalah trik-trik pelacak yang dipakai iklan untuk mengikuti kamu dari satu situs ke situs lain, atau dari HP ke laptop. Update terbaru Safari itu bikin banyak pemain industri iklan panik, soalnya model bisnis mereka dulu sangat bergantung pada identity matching — yaitu mencocokkan identitas user di berbagai platform. Tapi menariknya, WPP, holding iklan raksasa dunia, justru bilang mereka "minimal" merasakan dampaknya. Kenapa bisa tenang gitu?
Di panggilan penghasilan kuartal ketiga kemarin, CEO WPP Cindy Rose ngomong jelas ke analis Richard Kramer dari Arete Research. Dia bilang solusi data WPP nggak bergantung hanya pada identity matching lagi. Artinya, meski Apple blokir cookie pihak ketiga dan batasi fingerprinting, mesin data WPP tetap bisa jalan. Rahasianya? Mereka udah migrasi ke pendekatan clean room data, dan InfoSum jadi salah satu kunci utama di strategi tersebut.
Kenapa clean room jadi penyelamat
Clean room data itu konsepnya sederhana tapi powerful: data dari pihak berbeda (misal brand dan publisher) dimasukkan ke lingkungan aman, diolah bersama, tapi data mentahnya nggak pernah keluar atau tertukar langsung. InfoSum adalah platform yang mengenable ini — memungkinkan analisis silang tanpa sharing data identitas. Jadi saat Apple mematikan jalur tracking tradisional, WPP yang udah siapin infrastruktur clean room justru nggak kena dampak besar. Rose bahasakan tegas: "It doesn't really impact our data solution at all because we don't rely solely on identity matching."
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Ini bukan cuma untung WPP doang. Seluruh industri iklan digital sedang terpaksa beradaptasi. Cookie pihak ketiga udah lama dikabarkan mati, dan Apple cuma mempercepat prosesnya dengan Intelligent Tracking Prevention (ITP) yang semakin ketat. Siapa yang belum siapin alternatif seperti clean room, first-party data strategy, atau contextual targeting — mereka yang bakal kesulitan. WPP justru sudah beberapa tahun ngincar posisi ini, dan akuisisi mereka ke arah data & teknologi (seperti Satalia dan investasi di InfoSum) terbukti bukan main-main.
Yang berubah buat pelaku iklan lokal
Buat kamu yang kerja di agency atau brand di Indonesia, pelajarannya jelas: jangan nunggu cookie benar-benar mati baru panik. Mulai sekarang, bangun first-party data strategy yang solid — kumpulkan data langsung dari customer dengan izin mereka, pakai loyalty program, email subscription, atau interaksi app. Kedua, evaluasi vendor data kamu: apakah mereka sudah siap clean room? Kalau masih andalkan identity graph tradisional, waktunya cari yang baru. Ketiga, jangan abaikan contextual advertising — iklan berbasis konten halaman, bukan identitas user — yang justru makin relevan di era privasi tinggi.
- Bangun first-party data strategy sekarang, jangan nunggu deadline
- Evaluasi vendor data: pastikan mereka support clean room / privacy-safe analytics
- Eksplorasi contextual targeting sebagai backup yang privacy-friendly
- Audit dependency pada third-party cookie di seluruh kampanye aktif
Kesimpulannya, langkah Apple itu memang bikin gempa buat yang masih main lama. Tapi buat yang udah siapin infrastruktur modern seperti WPP dengan InfoSum, ini justru momen validasi: investasi mereka ke arah privacy-first architecture ternyata betul-betul worth it. Kamu mau jadi sisi yang panik, atau sisi yang tenang karena udah siapin siapapun?
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Apple terus memperketat privasi di Safari, tapi WPP bilang bisnis data mereka aman karena udah pindah ke clean room kayak InfoSum. Gimana caranya? Baca selengkapnya di sini.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan Digiday.
Baca artikel asli di Digiday→