Selama puluhan tahun Google Search jadi item budget yang gak perlu dibela. Tapi AI Overviews ubah semuanya — jawaban langsung di halaman hasil bikin orang gak klik, slot iklan prime jadi langka, dan tool auto-bid Google justru naikin harga. Musim Q4 nambah parah. Sekarang 18 media buyer bilang klien mereka ngecek Google kayak channel baru.
Dulu kalau bicara budget iklan digital, Google Search itu kayak listrik — harus ada, gak perlu ditanya-tanya, dan paling penting gak pernah jadi perdebatan. Media buyer cukup masukkan angka, set and forget, lalu laporan akhir bulan tinggal lihat ROAS. Tapi belakangan ini suasiannya beda banget. Di ruang rapat klien maupun agency, nama Google Search sekarang sering dibahas dengan nada skeptis, bahkan kadang kayak mau audit vendor baru. Kenapa? Soalnya AI Overviews.
Fitur AI Overviews yang Google gulirkan masif tahun ini mengubah fundamental cara orang berinteraksi dengan halaman hasil pencarian. Dulu orang ketik query, lihat daftar link biru, klik salah satunya — itu momen di mana iklan kamu berpeluang muncul dan diklik. Sekarang? Google sendiri yang menjawab langsung di atas halaman hasil. Ringkasan AI, snippet lengkap, bahkan rekomendasi produk — semuanya ada di situ tanpa perlu klik ke situs advertiser. Akibatnya, click-through rate (CTR) anjlok, dan nilai setiap klik yang tersisa jadi lebih mahal karena persaingannya ketat.
Slot Iklan Prime Menyusut, Harga Melonjak
Ini logika sederhana tapi pahit: inventory iklan prime di sekitar hasil pencarian (top-of-page, shopping carousel, local pack) jadi lebih sedikit karena ruang fisik halaman dipakai AI Overviews. Sementara permintaan dari advertiser tetap tinggi, apalagi masuk Q4 saat musiman belanja liburan dan promo tahunan. Hasilnya? Cost-per-click (CPC) melonjak drastis. Beberapa buyer yang diwawancarai Digiday bilang kenaikan 20-40% dari kuartal lalu, dan itu belum termasuk biaya hidden dari tool automated bidding.
Dan inilah ironinya: Google sendiri yang mendorong adopsi tool otomatis seperti Performance Max dan Smart Bidding sebagai default untuk hampir semua kampanye. Tool-tool ini dirancang untuk 'mengoptimalkan' belanja kamu — tapi dalam praktiknya, mereka justru cepat membelanjakan budget untuk merebut slot-slot yang tersisa. Artinya, kamu bayar lebih mahal untuk inventaris yang lebih sedikit, dan kontrol manual kamu semakin terbatas. Buyer merasa terjebak: mau naikkan bid manual? Repot. Mau serahkan ke AI? Uang cepat habis tanpa transparansi penuh.
Klien Mulai Minta Rekening Detail
Dari percakapan dengan 18 media buyer senior, Digiday menemukan pola yang jelas: klien sekarang meminta breakdown performa Google Search dengan tingkat detail yang dulu hanya diminta untuk channel-channel 'berisiko' seperti TikTok Ads, CTV, atau retail media network. Pertanyaan klasik seperti 'Berapa incremental lift dari spend ini?' atau 'Apakah kita cannibalize organic traffic?' sekarang dilempar ke Google Search. Beberapa brand bahkan mulai menggeser sebagian budget ke Microsoft Bing (yang juga punya AI tapi CPC lebih murah), Amazon Ads, atau bahalu retail media seperti Walmart Connect dan Target Roundel.
Tapi jangan salah — Google Search masih raksasa. Volume pencarian mereka tetap dominan, dan untuk banyak kategori (high-intent, local services, B2B), alternatif lain gak bisa ngejar skala. Masalahnya bukan 'apakah Google masih efektif', tapi 'apakah harga yang dibayar saat ini masih masuk akal'. Buyer yang pintar sekarang melakukan holdout test, geo-experiment, atau minimal meminta Google representative untuk justify setiap persen kenaikan CPC dengan data incremental yang nyata, bukan cuma metrik vanity seperti impression share.
Apa Yang Harus Kamu Lakukan Sekarang
Praktisnya, kamu gak perlu panik dan cut budget Google besok pagi. Tapi kamu wajib punya framework evaluasi yang lebih ketat. Pertama, segmentasikan kampanye: mana yang benar-benar high-intent dan butuh visibility di SERP (search engine results page), mana yang bisa dialihkan ke channel lain dengan CPA lebih rendah. Kedua, minta akses ke data auction insights dan search terms report lebih sering — jangan cuma lihat dashboard ringkasan. Ketiga, uji coba manual bidding atau portfolio bid strategy untuk kampanye kritis, jangan serahkan 100% ke Performance Max tanpa guardrail. Keempat, bangun first-party data strategy yang kuat supaya gak tergantung sepenuhnya pada ekosistem Google untuk targeting.
Era 'Google Search free pass' resmi berakhir. Bukan berarti Google mati — jauh dari itu. Tapi kekuasaan negosiasi bergeser. Buyer yang tetap tidur di tempat duduk akan bayar premium tanpa alasan jelas. Buyer yang proaktif audit, test, dan diversifikasi? Mereka yang akan menang di lelang CPC yang semakin mahal ini. Uang iklan kamu, hak kamu tahu ke mana perginya.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Selama puluhan tahun Google Search jadi item budget yang gak perlu dibela. Tapi AI Overviews ubah semuanya — jawaban langsung di halaman hasil bikin orang gak klik, slot iklan prime jadi langka, dan tool auto-bid Google justru naikin harga. Musim Q4 nambah parah. Sekarang 18 media buyer bilang klien mereka ngecek Google kayak channel baru.



