Instagram dorong video panjang 90 menit buat tarik kreator YouTube, cuma bayarnya cuma 'eksposur' dan kontrak rahasia buat segelintir orang. Kreator bingung: mau pindah atau nunggu monetisasi yang belum kelihatan?

Instagram baru-baru ini ngeluarin fitur video hingga 90 menit, gerakan jelas buat ngincar kreator long-form yang selama ini nyaman di YouTube. Platform juga siapin program "Features" yang bayar antara $50.000 sampai $500.000 buat segelintir kreator terpilih agar mau posting konten panjang di sana. Tapi, dan ini yang bikin banyak orang bingung, Instagram jujur bilang masih "terlalu awal" buat bagiin model monetisasi long-form yang konkret. Jadi kreator dihadapin pilihan: terima uang muka buat konten eksklusif, atau nunggu sistem bagi hasil yang belum pasti kapan hadir.

Kenapa kreator merasa dijual murah

Gabriella Zutrau, kreator sekaligus strateg digital, nggak setengah hati nyebut Instagram "menawarkan discoverability sebagai bentuk pembayaran" dan dia merasa "jijik" sama pendekatan itu. Menurut dia, reach memang bagus buat bangun awareness, tapi reach nggak bayar tagihan produksi atau beli makan. Jo Wong dari POP.STORE setuju, dia bilang kebanyakan brand deal justru lewat Instagram, tapi platform ini dari dulu nggak pernah punya program monetisasi kreator yang kuat. Samantha Walters dari Shine Talent Group bahkan terkejut Instagram belum siapin infrastruktur bayar yang bisa bersaing sama YouTube — padahal itu alasan utama kreator rela habisin waktu dan tenaga di sana.

"Eksposur sebagai bentuk pembayaran dengan niat memotong pangsa pasar YouTube — itu cuma kotor. Instagram tidak pernah menghargai kreator."

Gabriella Zutrau, kreator & strateg digital

Data dari Cropink nyatain paradox-nya: Reels dapet reach 36% lebih banyak dari carousel dan 125% lebih dari foto tunggal, tapi engagement-nya justru kalah. Artinya orang lihat kontenmu, tapi nggak tentu interaksi atau konversi jadi duit. Buat kreator yang udah terbiasa sistem Partner Program YouTube yang transparan — bayar per view, bagi hasil iklan — ketidakpastian Instagram terasa kayak langkah mundur.

Yang optimis soal potensi Instagram

Nick Jacklin dari Shorthand Studios lebih tenang. Dia mendukung model mirip YouTube di mana Instagram ambil $1 per view dan bagiin ke kreator, tapi dia percaya kalau Features bisa buktiin drive awareness, monetisasi akan ikut datang. Dia cuma peringatin: kalau Instagram nanti pasang iklan di video long-form tanpa kesepakatan jelas, kepercayaan kreator akan hancur. Perwakilan Instagram bilang mereka "mengeksplorasi cara buat kreator dapat duit dari brand, fans, dan Instagram, termasuk insentif berbasis performa" — tapi detailnya masih kabur.

Alexandra Mathieu dari Open Influence lihat sisi positif: kompetisi ini bagus buat talent. "Instagram taruh duit buat akuisisi kreator kasih leverage lebih buat manajer ngobrol sama YouTube," ujar dia. Bukan cuma soal fee, tapi bisa nego eksclusivitas, dukungan produksi, hingga kontrol kreatif. Jadi meski monetisasi native belum ada, tekanan ke YouTube buat perbaiki penawaran mereka jadi nyata.

Strategi kreator: nunggu atau coba dulu?

Mustafa Aijaz dari SoaR, yang handle banyak gamer dan streamer, bilang dia akan gunain Instagram cuma sebagai platform distribusi tambahan — "kita posting konten kita di sana, kenapa nggak? Tapi aku nggak bikin konten khusus Instagram saat ini." Zack Evans dari Shorthand Studios lebih lihat peluang di talk show dan komedi scripted, apalagi dengan aplikasi Instagram TV yang baru diredesain buat scrolling dan discoverability yang dia bilang lebih mulus dari YouTube. "Komedi itu inherently surprising, jadi dengan Reels dan Features sekarang, kamu scroll dan tiba-tiba nemu sketsa komedi, kamu nggak tau apa-apa dan jadi penasaran," jelas Evans.

Funnel dari short-form ke long-form di platform yang sama jadi keunggulan unik. "Top of the funnel adalah Instagram. Kita selalu nyoba ambil perhatian lewat Reels, Shorts, apa aja, terus funnel ke konten long-form," kata Evans. "Sulit banget, dan platform-platform ini jelas nggak saling suportif, jadi mereka bikin sulit buat kamu lakukan itu." Wong dan Mathieu sarankan kreator recycle konten lama dulu: taruh katalog YouTube yang udah lewat masa prime (biasanya 3-4 minggu pertama) ke Features, test reach-nya, baru lihat apakah bisa dapet brand deal lebih bagus. Mathieu tambahin: gunakan programming existing sebagai springboard buat series native Instagram baru — creator-led shows, konten panjang durasi film, atau series berkelanjutan.

Data survei bikin jelas: kreator mau bayar, bukan eksposur

Survei Shine Talent Group ke 50 kreator mereka ngasih gambaran keras: 93% bilang Instagram harus ubah kebijakan revenue kalau mau mereka bikin konten long-form asli; 100% udah posting di platform. Artinya, audiens dan reach udah ada, tapi kreator nggak mau investasi produksi tanpa jaminan pulang modal. Ini sinyal jelas buat Instagram: fitur Features dan video 90 menit cuma awal. Kalau mau benar-benar geser kreator YouTube, mereka harus siapin dompet — bukan cuma buat segelintir orang, tapi buat semua yang bikin konten panjang di platform mereka.

Catatan redaksi

Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini

Instagram dorong video panjang 90 menit buat tarik kreator YouTube, cuma bayarnya cuma 'eksposur' dan kontrak rahasia buat segelintir orang. Kreator bingung: mau pindah atau nunggu monetisasi yang belum kelihatan?

InstagramYouTubeekonomi kreatorkreatormonetisasi