Toko kelontong ternyata bukan cuma tempat belanja rutin — sekarang dia jadi media channel yang bisa nge-target shopper pas lagi pegang dompet. Brand yang mulai sekarang bakal dapet keuntungan sebelum jadi standar industri.
Kamu pasti pernah ngerasa aneh kenapa di toko kelontong sekarang banyak banget layar digital di ujung rak, dekat kasir, bahkan di keranjang belanja. Ternyata toko kelontong lagi transformasi jadi media channel legit — bukan cuma tempat jualan, tapi spot di mana brand bisa ngobrol sama shopper tepat saat mereka siap beli. Menurut riset Grocery TV, shopper 2,5 kali lebih mikir brand kalau iklannya relevan sama lingkungan belanjanya. Jadi iklan snack di area snack, iklan asuransi di dekat kasir, gitu deh logikanya.
Data nyata: 84% shopper lihat iklan end-cap yang kontekstual secara positif atau netral, banding 79% buat iklan yang nggak ada hubungannya sama lingkungan. Monaco dari Grocery TV bilang, industri sering fokus ke kemampuan teknis atau kreatifnya doang, tapi lupa pengalaman keseluruhan. "Yang paling kelewatan adalah nggak nyambungin seluruh perjalanan shopper," ujar dia. Artinya, brand harus mikir: pengalaman apa yang mau shopper dapet di titik sentuh itu, dan gimana cara nyambungin ke channel lain kayak TV atau sosmed?
Buat yang baru mulai, creative dari CTV atau sosmed bisa diadaptasi — cuma teks harus gampang dibaca dari jauh, dan branding harus ngejol banget. Lama-kelamaan, brand bisa bikin creative khusus in-store yang ngehitungin lokasi, retailer, sampai jam berapa. Contohnya, brand snack bisa bikin kampanye "game day" yang bikin shopper pengen tambah beli meskipun mereka cuma lewat masuk atau nunggu di kasir. Konten edukatif kayak resep atau tips pilih asuransi juga bisa bikin shopper betah engage saat belanja.
Targeting Makin Canggih Kayak Digital
Sekarang targeting in-store udah nggak kalah detail sama digital. Bisa pake sinyal geografis (negara bagian, DMA, ZIP code, point of interest), demografis (umur, penghasilan, komposisi rumah tangga), dan behavioral (pola beli, respons promo). Brand telco misalnya nge-target toko dekat kampus buat dapetin mahasiswa. Atau brand bisa prioritaskan toko yang over-index untuk grup tertentu — kayak toko yang banyak pengunjung Hispanic atau lansia.
Case study nyata: brand telco promosiin paket akses internasional lewat jaringan Grocery TV di toko yang over-index shopper Hispanic. Hasilnya? 27% lift consideration buat pilih paket wireless, 15% lift purchase intent, dan 12% lift unaided brand awareness. Angka-angka ini buktiin kalau targeting fisik bisa sepresisi digital, bedanya cuma di dunia nyata.
Measurement Masih Teringgal Tapi Udah Mulai Bisa
Ini bagian tricky: measurement belum sepenuhnya ngejar kemampuan channel ini. Studi Grocery TV dan IAB 2026 nemuin kalau di 4 dari 5 outcome kunci, marketer percaya in-store bisa drive outcome tapi nggak bisa measure semuanya. Sebagian karena operasional — KPI internal susah diselaraskan, dan ownership in-store masih di tim shopper marketing. Marketer yang paling sukses ambil pendekatan lebih luas: measure beyond immediate sales, libatin tim media nasional dan brand.
Contoh sukses: kampanye Grocery TV buat app keuangan measure brand impact vs control group — 82% lift brand rating, 72% lift recommendation, 34% lift brand awareness. Nickell bilang, "Buat banking, iklan di kasir make sense banget. Saat itu kamu keluarin kartu dan belanja paling gede seminggu. Urusan keuangan udah top of mind." Ada juga case Frito-Lay dengan Hy-Vee RedMedia: matched-store study 103 toko, 15% sales lift dan $7,94 ROAS. Brand personal care national bahas dapet 15% lift produk diiklanin, 12% lift produk komplementer, 8% lift seluruh portfolio.
Data menarik: 75% marketer yang fully leverage in-store measure post-purchase kayak loyalty dan repeat purchase, cuma 42% buat yang underutilize. Measure beyond immediate sales kasih gambaran utuh soal peran in-store di customer retention. Jadi jangan cuma lihat penjualan hari itu — lihat apakah shopper balik lagi.
Incremental Reach 49%, Budget Bisa Dipindah
Studi Grocery TV dan MFour nunjukin in-store media deliver rata-rata 49% incremental reach di luar media plan existing. Artinya, nambahin in-store ke campaign lain bisa kurangi overexposure dengan diversifikasi audience, dan maksimalin media spend dengan nutup gap yang ditinggal display atau online video. Monaco ngasih insight tajam: "Pertanyaan utamanya adalah outcome bisnis apa yang drive keberhasilan paling gede. Kita lihat kasus di mana masuk akal buat ambil budget dari digital yang underperform dan pindahin ke in-store."
Kamu nggak perlu overhaul seluruh media mix buat coba. Mulai dengan objektif jelas, test in-store bareng channel lain, evaluasi kontribusi incremental ke brand lift atau sales. Finding itu nanti bakal tunjukin di mana investasi masa depan paling impactful. In-store retail media masih developing sebagai full-funnel channel, jadi early adopter dapet edge sebelum jadi standar planning. Seperti Nickell bilang: "Semakin cepet mulai, semakin bagus." Learning soal creative apa yang work, gimana measure success, dan gimana bikin business case internal — butuh waktu. Gas aja dari sekarang.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Toko kelontong ternyata bukan cuma tempat belanja rutin — sekarang dia jadi media channel yang bisa nge-target shopper pas lagi pegang dompet. Brand yang mulai sekarang bakal dapet keuntungan sebelum jadi standar industri.


