Generative AI udah bikin analytics lebih aksesibel, tapi agentic AI masih ngasih insight yang setengah hati — cuma 48% yang bener-bener ngejalanin bisnis.
Generative AI udah bikin analytics jadi gampang diakses sama semua orang di perusahaan, bukan cuma tim data doang. Agentic AI janji bisa lebih jauh lagi, dia bisa otomatisasi workflow penuh dan ambil aksi berdasarkan insight sendiri. Tapi realita di lapangan masih jauh dari ideal, kualitas insight yang dihasilin agent masih bikin pusing. Banyak perusahaan merasa investasi mereka belum balik modal karena insight itu nggak selalu ngejalanin bisnis.
Survei terbaru dari MIT Technology Review nunjukin rata-rata cuma 48% insight dari agent analytics yang berhasil bikin aksi bisnis yang nyata. Angka itu naik dari 37% setahun lalu, tapi masih berarti lebih dari setengah insight tetep gagal. Di segelintir perusahaan yang disebut "insight leaders", angka suksesnya bisa tembus 70% lebih, jauh di atas rata-rata. Perbedaan itu nampak paling jelas di insight preskriptif — yang dipakai buat keputusan aksi — kualitasnya masih campur aduk.
Kenapa insight masih gagal
Alasan utama insight jelek itu kurangnya konteks bisnis, dikutip 55% eksekutif yang disurvei. Data yang terpecah-pecah atau susah diakses jadi penyebab kedua, disebut 45% responden. Insight leaders sendiri ngaku agent mereka kurang struggle soal akses konteks, jadi mereka bisa hasilin insight yang lebih relevan. Tanpa konteks yang kaya, agent cuma ngasih angka tanpa tahu artinya buat bisnis kamu.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Masalah lain adalah overload insight, di 52% organisasi agent menghasilkan terlalu banyak insight sampai tim nggak sempat evaluasi semuanya. Cuma 24% yang bisa review semua insight, sisanya pilih-pilih manual yang bikin proses jadi lambat dan boros tenaga. Bayangin kamu harus nyaring ratusan rekomendasi AI tiap hari, pasti capek dan berisiko lewatkan yang penting.
Apa yang dilakukan perusahaan
Buat naikkan kualitas, 60% perusahaan fokus memperkuat governance AI dan data, biar data yang masuk ke agent bersih dan terpercaya. Segede 45% nambah semantic layer di arsitektur data, layer ini ngasih makna bisnis ke data mentah supaya agent paham konteks. Para ahli yang diwawancara sepakat semantic layer itu kunci biar agent performa tinggi dan nggak cuma ngasih angka doang.
- Perkuat governance AI & data (60%)
- Tambah semantic layer (45%)
- Kurangi overload insight dengan filter otomatis
- Latih agent pakai konteks bisnis spesifik
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Generative AI udah bikin analytics lebih aksesibel, tapi agentic AI masih ngasih insight yang setengah hati — cuma 48% yang bener-bener ngejalanin bisnis.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→


