Blue Origin mundur ke Januari buat penerbangan New Glenn berikutnya, padahal NASA dan Amazon nunggu banget. Di sisi lain, tiga mantan SpaceX bikin satelit yang jalan pakai air — bisa diambil langsung dari Bulan.
Kabar dari Cape Canaveral: Blue Origin resmi mundurin return-to-flight New Glenn dari Desember ke Januari 2025. Ini delay kecil yang memang udah diduga banyak orang, tapi tetap bikin NASA, Amazon, dan Space Force ngantuk menunggu. Pad launch-nya sendiri baru pulih total dari ledakan parah enam bulan lalu — reconstruct-nya masih on-going tapi udah major progress. Artinya, Blue Origin harus benar-benar siap banget sebelum nyalain mesin BE-4 lagi, soalnya tekanan dari klien besar itu nggak main-main.
Kick stage baru dan mesin baru di tangan
Di tengah delay itu, Blue Origin justru ngeluarin dua announcement besar sekaligus: kick stage baru buat New Glenn dan desain mesin roket baru. Kick stage ini fungsinya buat nge-drop payload ke orbit yang lebih presisi, terutama misi ke GEO atau interplanetary. Sementara mesin baru — yang belum dikasih nama resmi — dikabarkan pakai arsitektur yang lebih simpel dan reusable. Ini semua bagian dari strategi Blue Origin biar New Glenn jadi workhorse yang andal, bukan cuma roket sekali terbang. Tapi sayangnya, semuanya masih di kertas sampe penerbangan test berikutnya sukses.
Tiga bersaudara mantan SpaceX bangun startup sendiri
Sisi lain yang lebih fresh: tiga bersaudara Carlisle — yang dulu kerja di era Falcon 9 — sekarang founding Argo Space. Visi mereka gila tapi logis: bikin infrastruktur di orbit yang nggak butuh propelan dari Bumi. Satelit mereka pakai air sebagai propelan, coolant, dan radiation shield sekaligus. Air itu bisa di-harvest langsung dari Bulan (ada es di kutubnya) dan tersedia di mana-mana di Solar System. Konsepnya: launch satelit kering, terus isi air di orbit atau di bulan. Kalau berhasil, ini game-changer buat ekonomi ruang angkasa.
Argo Space masih early stage, tapi background timnya kuat banget — third generation aerospace, langsung terlibat Falcon 9. Mereka nggak cuma mimpiin in-space transportation, tapi mau bikin refueling depot dan tugboat orbital. Kalau air benar-benar jadi 'bensin' ruang angkasa, dependency ke launch dari Bumi bisa drastis turun. Bayangin aja: roket cuma perlu bawa payload, propelan diambil di situ. Cost per kg ke orbit bisa nosedive.
Kenapa air jadi kandidat terkuat
Air punya keunggulan unik: non-toxic, stabil, mudah distore, dan — yang paling penting — sudah ada di luar sana. ISRU (in-situ resource utilization) pakai air jauh lebih gampang dibanding methane atau hydrogen yang butuh processing kompleks. Argo Space desain thruster mereka pakai electrolysis: pecah air jadi hidrogen dan oksigen, terus bakar. Efisiensinya oke, dan byproduct-nya cuma uap air. Plus, air juga kerja sebagai radiation shield buat elektronik sensitif dan coolant buat sistem termal. Satu bahan, tiga fungsi.
Tantangannya sih classic: butuh listrik banyak buat electrolysis, dan infrastructure harvesting di Bulan belum ada. Tapi NASA dan China kedua-duanya target misi crewed ke Bulan dekade ini, jadi timing Argo Space pas banget. Kalau mereka bisa demo refueling di orbit dalam 2-3 tahun, investor dan agency pasti antri. Ini bukan sci-fi lagi — teknologi thruster air sudah diuji di lab, tinggal scale up dan flight heritage.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Blue Origin mundur ke Januari buat penerbangan New Glenn berikutnya, padahal NASA dan Amazon nunggu banget. Di sisi lain, tiga mantan SpaceX bikin satelit yang jalan pakai air — bisa diambil langsung dari Bulan.



