Obat penurun berat badan GLP-1 seperti Ozempic dan Wegovy memang revolusioner, tapi para klinisi peringatkan: obat ini bisa memicu atau memperparah gangguan makan yang sudah naik drastis tiga dekade terakhir.
Kamu pasti udah dengar kabar soal obat penurun berat badan kelas baru kayak Ozempic, Wegovy, atau Mounjaro. Obat-obatan ini disebut-sebut sebagai breakthrough biotek terbesar sepuluh tahun terakhir, dan memang efektif banget bikin orang kurus drastis. Tapi di balik hype dan testimoni before-after di TikTok, para dokter spesialis gangguan makan lagi gelisah — dan alasannya nggak main-main.
Laporan terbaru nunjukin kalau insidens global anorexia nervosa dan bulimia nervosa melonjak 71% antara 1990 sampe 2023. Angka itu udah ngeresahkan sebelum obat GLP-1 jadi viral. Sekarang, para klinisi di lapangan mulai ngelihat pola baru: pasien yang udah punya risiko gangguan makan justru jadi lebih parah setelah minum obat ini, dan bahkan orang yang sebelumnya nggak ada gejala pun bisa terjebak ke dalam siklus berbahaya.
Mekanisme GLP-1 yang bikin rawan disalahgunakan
GLP-1 agonists kerja dengan meniru hormon alami yang ngatur nafsu makan dan kadar gula darah. Efek samping paling terkenal: perut jadi cepet kenyang, nafsu makan turun drastis, dan berat badan turun cepat. Bagi orang dengan diabetes tipe 2 atau obesitas berat, ini kehidupan. Tapi bagi orang yang punya kecenderungan mengontrol makan secara patologis, efek 'kenyang cepat' ini terasa kayak superpower — dan itu yang berbahaya.
Advertisement
Slot in-article yang tampil setelah paragraf ketiga.
Dokter-dokter lapangan melaporin kasus pasien yang sengaja naikin dosis sendiri biar nggak lapar sama sekali, atau yang panik banget kalau efek obat mulai redup dan nafsu makan balik. Beberapa pasien bahu kabur dari pemeriksaan rutin biar nggak ketahuan kalau mereka udah terlalu kurus. Ini mirip banget dengan pola pikir anorexia: mengontrol makan jadi cara ngontrol kehidupan, dan ketakutan naik berat jadi paralisis.
Kami melihat pasien yang sebelumnya stabil tiba-tiba relapse parah setelah mulai GLP-1. Obat ini nggak cuma ngurangi nafsu makan — dia ngvalidasi voice gangguan makan yang bilang 'kelaparan itu baik'.
Dr. Cynthia Bulik, direktur pusat penelitian gangguan makan UNC
Siapa yang paling berisiko? Bukan cuma yang udah diagnosis
Risiko paling tinggi memang buat yang udah punya riwayat anorexia, bulimia, atau ARFID (avoidant/restrictive food intake disorder). Tapi para ahli peringatin: screening sebelum resep GLP-1 masih longgar banget. Banyak dokter umum atau klinik estetika yang resepin obat ini cuma berdasarkan BMI, tanpa nanya riwayat hubungan pasien dengan makanan. Padahal, riset nunjukin banyak orang punya 'disordered eating' yang nggak ke-diagnosis — pola makan haotik, puasa intermiten ekstrem, atau obsesif hitung kalori — yang bisa escalate jadi full-blown eating disorder kalau dikasih obat yang bikin kelaparan jadi gampang.
Tambahin lagi faktor sosial media. Di TikTok dan Instagram, konten 'GLP-1 journey' sering kali diromantisasi: orang posting foto perut datar, cerita nggak makan seharian kayak achievement, dan tips 'maximize weight loss' yang pada praktiknya mirip tips pro-ana (pro-anorexia) jaman dulu. Algoritma nggak bedain mana yang sharing pengalaman medis legit dan mana yang nge-promote perilaku berbahaya.
- Screening wajib riwayat gangguan makan sebelum resep GLP-1 — minta dokter nanyain pola makan, bukan cuma BMI
- Waspadai gejala awal: skip makan sengaja, takut naik berat meski udah kurus, cek badan berulang kali sehari
- Jangan ikut trend dosing 'aggressive' di media sosial — ikutin protokol dokter, nggak tiktok
- Kalau punya riwayat gangguan makan, pertimbangkan alternatif non-farmakologis dulu bareng tim multidisplin
Regulasi dan praktik klinik masih ketinggalan
Saat ini, FDA dan EMA (European Medicines Agency) udah masukin peringatan soal risiko suicidal ideation dan depresi di label obat GLP-1, tapi peringatan spesifik soal gangguan makan masih minim. Di Indonesia, BPOM udah mengizinkan semaglutide (Ozempic) untuk diabetes, tapi penggunaan off-label untuk weight loss di klinik estetika lumayan liar. Banyak pasien beli lewat apotek online atau telemedicine tanpa evaluasi psikiatris sama sekali. Ini bikin celah rawan banget buat penyalahgunaan.
Beberapa rumah sakit besar di AS sekarang mulai menerapkan protokol 'eating disorder screen before GLP-1' yang melibatkan kuesioner SCOFF atau EAT-26 sebelum resep. Tapi ini belum jadi standar global. Di sisi industri, farmasi besar kayak Novo Nordisk dan Eli Lilly dorong akses lebih luas — yang wajar dari sisi bisnis, tapi mesti dibarengin tanggung jawab monitoring pasien jangka panjang.
Bottom line: GLP-1 itu obat hebat buat orang yang benar-butuh. Tapi kayak pisau dua tajam, di tangan yang salah — atau tanpa pengawasan yang cukup — dia bisa jadi katalisator tragedi. Kalau kamu atau orang dekat kamu pertimbangin obat ini, pastiin screening mental health-nya serius, nggak cuma cek berat badan dan tekanan darah. Hidup sehat itu nggak cuma soal angka di timbangan.
Catatan redaksi
Kalau lo cuma ambil satu hal dari artikel ini
Obat penurun berat badan GLP-1 seperti Ozempic dan Wegovy memang revolusioner, tapi para klinisi peringatkan: obat ini bisa memicu atau memperparah gangguan makan yang sudah naik drastis tiga dekade terakhir.
Sumber asli
Artikel ini merupakan rewrite editorial dari laporan MIT Technology Review.
Baca artikel asli di MIT Technology Review→


